PENGKLASIFIKASIAN DATA DAN PEMBUATAN KONTEN MENGGUNAKAN PICTOBLOX
Selasa, 12 Agustus 2025
Kamis, 03 Oktober 2024
Senin, 23 September 2024
Membuat Kue Bika Ambon
Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat kue Bika Ambon:
Bahan-bahan:
Bahan A:
- 500 ml santan
- 200 g gula pasir
- 1 sdt garam
- 3 lembar daun pandan, simpulkan
Bahan B:
- 250 g tepung sagu
- 1 sdt ragi instan
- 4 butir telur
- 1 sdt air jeruk nipis
Langkah-langkah:
Membuat Santan:
- Panaskan santan dengan daun pandan, gula, dan garam hingga gula larut. Jangan sampai mendidih. Angkat dan biarkan dingin.
Mencampurkan Bahan Kering:
- Dalam wadah terpisah, campurkan tepung sagu dan ragi instan. Aduk rata.
Membuat Adonan:
- Kocok telur dengan air jeruk nipis hingga mengembang. Tambahkan campuran tepung sagu sedikit-sedikit sambil terus diaduk.
- Setelah itu, tuangkan santan yang sudah dingin ke dalam adonan dan aduk hingga rata.
Fermentasi:
- Tutup adonan dengan kain bersih dan biarkan selama 2-3 jam di tempat hangat agar adonan berfermentasi dan mengembang.
Memanggang:
- Panaskan kukusan. Siapkan loyang yang telah diolesi minyak atau dialasi daun pisang.
- Tuang adonan ke dalam loyang dan kukus selama 30-40 menit hingga matang. Pastikan untuk tidak membuka tutup kukusan selama proses pengukusan.
Dinginkan:
- Setelah matang, angkat dan biarkan kue dingin sebelum dipotong.
Sajikan:
- Potong kue Bika Ambon sesuai selera dan sajikan. Nikmati dengan kopi atau teh!
Selamat mencoba membuat Bika Ambon! Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya.
Selasa, 30 Oktober 2018
Karena Kita Bisa Saling Segalanya
Peran Kita Untuk Penyandang Disabilitas
Dengan kita mengetahui cara berintraksi dengan penyandang disabilitas, maka disabilitas bisa dipahami sebagai keragaman dalam masyarakat. Kekakuan, rasa takut, bahkan sikap berlebih terhadap orang dengan disabilitas dapat dihindari. Dengan begitu, kita bisa menjadi bagian dalam mendorong terciptanya Indonesia yang ramah disabilitas. Banyak hal terjadi karena sudah biasa. Kejadian yang tidak biasa seringnya menimbulkan kecanggungan. Sebagai contoh, masyarakat tidak terbiasa berinteraksi dengan orang berdisabilitas karena lebih jarang bertemu dengan orang berdisabilitas di ruang publik. Sikap yang terlihat malah kikuk, “takut salah”, atau bahkan cenderung berlebihan setiap kali saling berinteraksi.
Bukan hanya itu, lebih jarangnya kehadiran orang dengan disabilitas di ruang publik sebenarnya merupakan penanda bahwa terjadi proses diskriminasi dan pembiaran selama bertahun-tahun. Orang dengan disabilitas “tidak dibiarkan” berada di ruang publik secara mandiri, termasuk dan bebas berinteraksi dengan lebih banyak orang. Orang dengan disabilitas termarjinalkan dari masyarakat umum.
Setelah disahkannya UU Penyandang Disabilitas, negara—yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah—menjamin kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat dengan disabilitas untuk mendapatkan lebih banyak akses dalam berinteraksi dengan lingkungan , ksekitarnya. UU Penyandang Disabilitas juga menjamin aksesibilitas untuk orang dengan disabilitas mendapatkan hak-hak dasarnya, sama dengan semua orang. Keberadaan UU Penyandang Disabilitas akan mendorong kehadiran para disabilitas di ruang-ruang publik; bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek.
Berkaca pada situasi tersebut, perlu ada kesadaran yang lebih mendalam dari kita semua bahwa orang dengan disabilitas juga merupakan warga negara yang berhak hidup secara mandiri dan bebas. Mereka berhak menempati ruang-ruang publik dan memanfaatkan segala fasilitas umum tanpa kendala. Dengan begitu, kita semua perlu memahami bagaimana berinteraksi langsung dengan para disabilitas.
Bergerak Bersama disabilitas
Saat ini aktivitas kita sangat didukung dengan adanya fasilitas dan kemampuan, tapi kegiatan yang mudah kita lakukan belum tentu mudah untuk dilakukan bagi penyandang disabilitas. Karena tidak semua fasilitas cocok untuk penyandang disabilitas. Bahkan penyandang disabilitas sering tidak mendapatkan dasilitas bahkan mereka juga sering diperlakukan berbeda. Semua itu terjadi karena kebanyakan dari kita tidak tahu cara berinteraksi dendan penyandang disabilitas. Biasanya kita sering bersikap acuh terhadap penderita disabilitas tapi lebih sering kita keliru bersikap terhadap mereka, sekalipun awalnya maksud kita baik.
Hal yang perlu kita lakukan adalah perlakukanlah penyandang disabilitas seperti kita mau diperlakukan orang lain. Ibaratkan jika sedang mati lampu kita bahkan tidak bisa melihat apa-apa, kemudian secara tiba-tiba ada orang yg datang menepuk pundak kita, apa yang terjadi pada kita? Sudah pasti merasa terkejut. Begitulah respon penderita tunanetra jika ada seseorang yang ingin membantunya tapi tidak bertanya terlebih dulu. Maka dari itu cara membantu penderita tunanetra dengan cara menyentuh punggung tangan kemudian bertanya dulu terlebih dahulu bukan langsung memegangnya apalagi sampai menyeretnya , setelah itu biarkan penderita tuanetra yang memegang tangan kita untuk berjalan.
Setiap haripun kita melihat perbedaan, dan kebanyakan mereka yg berbeda lebih menarik perhatian. Jangan sampai perbedaan yang terlalau menonjol membuat kita kesal. Sebagai contoh ketika ketika mendengar penderita tunarungu berbicara dengan orang normal maka orang normal ini pun akan bersuara dengan sangat keras. Saat mendengar itu seharusnya kita tidak perlu kesal karena kitapun pernah berteriak keras-keras saat nonton konser atau menyanyi sendiri saat mendegarkan music. Kalua ingin menyapaorang yang sulit mendengar atau penderita tunarungu, kita bisa menepuk pundaknya lalu berbicara seperti biasa tidak terlalau cepat dan juga tidk terlalu lambat atau jika bisa ditambah dengan Bahasa isyarat. Karena penderita tunarungu bisa membaca gerak mulut dan Bahasa isyarat lebih baik daripada kita.
Seringkali kita terlalu cuek sehingga tidak bisa membedakan apakah orang itu berbeda atau tidak. Tapi apakah perbedaan itu begitu penting dalam menentukan sikap kita ? apalagi lagi sampai membuat kita melihat dari ujung rambt hingga ujung kaki. Apakah kita sendiri suka dilihat seperti itu ? seharusnya tidak peduli mereka penyandang disabilitas atau bukan, kepada semua orang sudah sepantasnya kita berlaku sopan. Penampilan orang dengan disabilitas mental sering kali tidak berbeda jauh dengan kita. Mereka juga punya indentitas yaitu KTP jadi mereka juga memiliki hak sama seperti orang normal. Mereka juga berhak untuk ikut pemilu. Yang mereka butuhkan adalah interaksi social agar mereka juga dapat memahami kondisi sekitar dan dapat bersosialisasi. Kalau bingung kita harus bersikap seperti apa terhadap disabilitas mental kita hanya perlu tersenyum ramah
Sementara itu kita tahu diluar sana banyak fasilitas di Indonesia yang belum ramah untuk semua orang. Loket berkaca gelaptidak membuat kita nyaman berkomunikasi, orang dengan gangguan pendengaran jadi tidak bisa membaca gerak bibir. Trotoar rusak sangat berbahaya bagi pejalan kaki, apalagi bagi yang berkursi roda dan tunanetra. Hal yang perlu kita lakukan adalah mendorong perbaikan fasilitas yg ada di Indonesia agar penyandang disabilitas juga bisa menikmati fasilitas yang ada.
Dengan adanya undang-undang disabilitas No.8 tahun 2016 berlaku sejak April 2016. Memastikan agar perbaikan fasilitas umum turut memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas. Peran kita sangan dibutuhkan dalam melaksanakan UU No.8 Tahun 2016 tentang Disabilitas. Ada 25 sektor yang dibahas diantaranya transportasi, kesehatan, tenaga kerja,komunikasi, dan fasilitas bangunan. Karena tanpa fasilitas kita sulit beraktifitas, dan karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda maka semestinya fasilitas umum cocok untuk semua orang termasuk untuk penyandang disabilitas.
Maka dari bagi kita yang bukan penyandang disabilitas sudah sepantasnya kita bergerak untuk penyandang disabilitas agar mereka bia mendapatkan hak yang sama seperti kita. Janagan lagi merendahkan penyandang disabilitas atau bahkan tidak memerdulikan penyandang disabilitas.
Fahira Salsabilah
Minggu, 25 Februari 2018
Kenapa Harus Twice
berawal dari setiap gw nongkrong temen gw Abud selalu bersenandung "i'm like tity just like titi" itu mulu yang dia senandungin, padahal nih bocah pendengar musik rock 90'an, anjir ini orang nyanyi jorok bet "lu nyanyi jorok bbanget bud najis dah, bocah cabul" yang gw denger dan ada di pikiran gw tuh tity artinya toked njir, astaghfirullah pikiran gw keruh bet. terus dia ngebantah dong, "gak cabul anjir ti ti yan, 'T.T' emot icon nangis, elu yak yang cabul" | "lagu siapa emang itu?" | "ada girlband korea Twice namanya" denger girlband korea pikiran gw langsung "anjir pasti videonya seksi ya bud?" macem sistar, bhusetdah bora bay lu tau sendiri, sehari juga gak abis itu. "engga yan lucu videonya" langsung gw buka youtube saat itu juga, gw nonton ampe goblog, imej gw tentang girlband korea bubar langsung seakan iman islam gw gak lepas kayak lu lagi minum khamar, iman lu langsung lepas saat itu (cek hadis gw lupa hadis yang mana, maaf) gw masih insecure tapinya gak bisa secepet itu juga terima kalo girlband korea itu identik sama seksi dan menggairahkan. gw cek video lainnya, bam bam bam, yang rada menjurus emang cuma satu itu video "ooh ah ooh ah"
udah cukuup kayaknya pengantarnya, segitu aje, gak kayak pengantar skirpsi emang yang bisa satu lembar A4 margin 4-3-3. sekarang masuk ke pokok bahsan. kenapa harus twice saat itu juga.
1. musiknya enak-enak
gw bisa klaim dengan sadar kalo gw pecinta musik, apa aja gw denger, selama musiknya enak, ampe lagu dangdut kerawang-cirebon juga bisa masuk ke telinga gw. musik twice itu iramanya enak semua, semuanya. anjir cem fan garis keras opini gw, mungkin ada beberapa yang pertama kali gw denger kurang asique menurut gw, cuma ketika gw denger ulang-ulang, yailah ini musik enak bet, ada satu lagu twice yang pertama gw denger, anjir ini lagu apaan, judulnya "likey" cuma gegara keputer otomatis kalo gw dengerin lagu twice, lama-lama lagunya enak, cinta datang karena terbiasa, anjay. ditambah sekarang likey ganti main vocal, makin enak aja di denger, dahyun yang main vocal, yang ngerap si momo, badass emang suara dahyun di lagu ini. nah lagu kesukaan gw ya "T.T"
lagu tanpa video klip rasanya kayak aku tanpa kamu, bisa sih jalanin hari, cuma jadi sekedar aja gitu. video klip Twice itu lucuk-lucuk, enak buat ditonton terus-terusan, konsepnya unik-unik, udah gitu full color sampe sejauh ini, full color campur monochrome juga ada "cheer up". pakean sama gerakan narinya juga lucuk, gak adadah unsur seronok bahkan di ooh ah juga yaelah standaran dah, jadi kalo gw lagi nonton di youtube terus ibu gw liat juga masih santai gw, coba kalo gw nonton ma boy, berantakan karir gw saat itu juga. gak ada cowoknya, ini nih ini, yang paling gw apresiasi, mereka tau penontonya banyak yang tuna asmara, makanya gak mau dia bikiin panas penonton, sekalinya ada itu cowok mukenya ditutupin properti kayak di lagu "cheer up" sama "signal". terus kalo videoklip yang paling gw suka "one more time" jagoan gw lagi cakep-cakepnya disitu
3. koreografinya lucuk
gak kayak girlband-girlband korea yang gw tau, twice punya koreografi yang bisa bikin gw ketawa disetiap videoklipnya, iya gw ketawa beneran, bisa anjir kepikiran bikin gerakan kayak gitu, yahlu kalo gak ketawa mah ada yang gak beres sama kukulu, iye otaklu di kuku soalnya. ada yang bilang "twice mah sekedar gerakannya, coba lu tonton girlfriend" gw coba tuh tonton, emang sih lebih ada-ada aja gerakannya, cuma gak lucuk, lebih ke arah keren.
sejatinya laki-laki harus punya jagoan, kayaklu nonton power ranger aje, lu pasti mulih jagoan, pertama banget gw liat twice gw secara polos tanpa pertimbangan matang jagoan gw saat itu momo, soalnya pas video klip "T.T" dia di tengah mulu terus pas yang gerakan dia nonjok-nonjok pipi itu lucu bet parah, udah gitu momo mukanya gak kayak orang korea, jadi gw bisa langusng tau itu jagoan gw. soalnya gw kalo nonton apa-apa yang berbau korea selatan yang gw liat muka ceweknya sama semua anjir, ini siap itu siapa seakan sama, makanya gw pilih momo. seiring berjalannya waktu, mata gw disadarkan oleh pipinya dahyun sama matanya, anjir ini orang oplas dimane, pen gw kasih kartika sari dokternya, "makasih dok, kerjaanlu bagus". FYI aje nih Dahyun itu udah tipe gw bet, badannya kecil mukanya tembem, matanya galak, gw kalo diomelin sambil diplototin dia, nurut pasti gw "bian kamu jangan kerja, tiduran aja di kamar!" gak pake ngelawan gw pasti langsung nurut. udah gitu lucuk lagi bocahnya, kelakuannya ada-ada aja. sempurna dah dia, semuanya ada.
Honorer Relationship #3
Mereka
berdua sampai di suatu apartemen, setelah
memarkirkan mobilnya Nadi membukakan pintu untuk Artri kemudian
menggandengnya menuju lobi, genggamannya kali ini tidak sekasar saat
sebelumnya, entah kenapa Artri tidak melawan sama sekali untuk kali ini,
setibanya di lobi salah satu satpam menegur Nadi “pak guru mau ngapain
bawa-bawa perempuan bukan muhrim ke apartemen? Mau main gila ya pak” candaan
dari satpam di balas dingin oleh tatapan Nadi. Artri hanya bisa menunduk sambil
tetap langkahnya mengikuti Nadi menuju lift. Keluar dari lift mereka menuju
suatu kamar tapi Nadi tidak membuka kamar tersebut, dia mengetuk kamar tersebut
“Assalamualaykum,
mba Qifah, ini saya Nadi”
“oh
iya mas Nad, sebentar” sahut wanita yang ada di dalam ruangan tersebut, selang
beberapa detik muncullah wanita berdaster panjang dengan rambut kuncir kuda,
sambil menggendong anaknya dengan kain gendong
“maaf
mba Qifah ini saya mau ngerepotin lagi” perkataan Nadi yang lembut sangat
berbeda sekali saat dia berbicara dengan Artri
“oh
iya masalah waktu itu ya” Mba Qifah seperti sudah sangat paham dengan apa yang
diminta Nadi. hal tersebut membuat Artri semakin bertanya-tanya sebenarnya apa
yang telah terjadi antara dia sampai ada orang lain lagi
“iya
mba, biar Raka saya yang gendong deh” Nadi menawarkan jasa jaga bayi sambil
tersenyum sopan.
“udah
ndak usah mas, yaudah tolong buka aja kamarnya” Mba Qifah menolak tawaran Nadi
dan ingin langsung membantu Nadi secara sukarela
“Artri
sekarang kamu ikut sama Mba Qifah ya, jangan bicara keras-keras karena ada
bayi” pesan Nadi sebelum mereka memasuki kamar
“gak
usah dibilangin gw juga ngerti!” Artri membalasnya dengan bisikan ketus di
telinga Nadi
“yaudah
Mba Qifah saya tinggal ke bawah dulu ya cari makan” Nadi tidak memberikan
respon apapun kepada Artri tapi malah berbicara kepada Mba Qifah
“eh
sebentar pak guru yang terhormat, lu bilang mau selesain urusan kita berdua
tapi kenapa malah kayak gini sih!?” bentak Artri saat Nadi ingin meninggalkan
mereka berdua, saat itu juga bayi Raka bergerak kaget lalu menangis. Artri lalu
berbalik badan segera mengusap kepala Raka sambil tangan satunya menepuk-nepuk
paha bayi tersebut, melihat hal tersebut mba Qifah tersenyum manis, tapi tidak
dengan Nadian, ada ekspresi lain yang hadir di hatinya.
“aduh
maaf ya Raka, sh sh sh sh, udah-udah bubu lagi ya. Mba Qiffah maaf ya” dengan
perasaan tidak enak Artri meminta maaf
“udah-udah
ndak apa-apa mba Artri, yasudah tutup pintunya kita masuk” balas Mba Qifah
santai. Saat Artri menutup pintu, keberadaan Nadian sudah tidak ada di di
koridor, dia seakan menghilang menggunakan jurus sintensin no jutsu
“ini
apartemen mba juga ya?” tanya Artri saat baru saja duduk di sofa bersebelahan
dengan Mba Qifah
“bukan
ini punyanya mas Nad, seminggu yang lalu kamu tidur di sini” sambil terus
menepuk-nepuk paha Raka Mba Qifah menjawab pertanyaan Artri dengan santai.
Santainya Mba Qifah tidak sama dengan perasaan yang dirasa Artri, Artri malah
semakin kesal
“hah!?”
kagetnya Artri membuat tangannya berhenti mengusap kepala Raka untuk beberapa
detik
“yasudah
saya langsung cerita saja ya, malam itu Nadian ngetuk-ngetuk kamar saya minta
tolong ke suami saya, mas Nad gendong-gendong kamu ngos-ngosan, melihat hal
seperti itu suami saya membangunkan saya, karena ini bukan urusan laki-laki
lagi, saya langsung membantunya, dia membaringkan kamu di kasur, tapi kamu
tidak langsung tidur nyenyak, kamu muntah-muntah di kasur, kamu bisa cek ke
kamar mas Nadian, bekas muntah kamu belum dibersihkan sama sekali. Setelah itu
saya diminta untuk membersihkan diri kamu, ya saya mandikan kamu, hehehe, ndak
papa toh? Kan kita sama-sama perempuan, lalu kamu pakai kaos punya mas Nad sama
celananya juga, tapi gak celana dalem loh ya, baju kotormu dicuci sama mas Nad,
semalaman sampai siang kamu tidur di sofa ini, saya disuruh nemenin Mba, mas
Nad tidur di apartemen saya bareng suami saya, ndak tidur juga sih, mereka malah main game
bareng, lalu sekitar jam 8 pagi saya keluar untuk siapin sarapan buat suami
saya, mas Nad yang gantian jagain kamu” Mba Qifah menceritakan secara singkat
kronologis malam itu
“terus
mba Qifah gak kesini lagi? Mba Qifah gak tau dong Nadian ngapain pas berduaan
sama saya?” pertanyaan cepat langsung dilontarkan oleh Artri, karena selama Mba
Qifah cerita, Artri belum menemukan kesalahan Nadian
“Mba
Artri kalo mas Nad mau, sudah dari semalam dilakukan. Lagian ndak lama temen
kamu datang jemput kamu” jawab santai Mba Qifah sambil tersenyum lembut
“terus
Nadian kemana?” Artri kembali bertanya karena belum menemukan apa yang dia
sangkakan selama ini
“sarapan
bareng saya sama suami sama Raka juga, saya tanyain kamu katanya sudah pergi
sama temenmu” kalimat tersebut sekaligus menjadi akhri cerita yang tidak
disangka Artri sama sekali. Artri berjalan menuju kamar Nadian, melihat kasur
Nadian yang penuh noda muntah, bau kamarnya tidak sedap, Artri menutup kamarnya
lalu pamit buru-buru dengan perasaan malu dan menyesal. Dia bertekat untuk
tidak bertemu Nadian lagi karena sangat malu, segera ia memberhentikan taksi
untuk menuju kantornya.
Setibanya
di kantor, Artri langsung membanting badannya di kursi kerjanya, mukanya sangat
kusut, peluh di keningnya tidak mengganggunya sama sekali, beberapa helai
rambutnya mengkilap karena keringat.
“ebuset
kenek patas manalu, bilang-bilanglah biar gw bisa naek patas gratis” celetuk
sorang perempuan dari samping bilik kerjannya
“apaan
sihlu, mana ada kenek patas seksi gini” balas Artri sambil tertawa heran
“lah
itu apaan di pundaklu, kalo bukan sapu tangan kenek patas” jawab perempuan
tersebut sambil menunjuk apa yang ada di pundak Artri
“ah kenapa sih!” teriak Artri
sampai membuat yang lain melirik kearahnya. Belum sempat iya minta maaf, dia
dikagetkan oleh pesan masuk yang ada di handphonenya.
Sabtu, 13 Januari 2018
Honorer Relationship #2
"apa-apaan sihlu?? sakit
tangan gw, pantesan tangan adek gw sampe merah gitu, elu jadi guru tapi
kelakuanlu jauh dari kata teladan ya" ucap wanita tersebut sambil mengatur
nafasnya yang ngos-ngosan lantaran menahan sakit di tangannya. mendengar
kalimat tersebut Nada semakin menjadi, genggaman tangannya semakin di eratkan,
langkahnya menjadi semakin cepat menyeret wanita tersebut. Setibanya di ujung
koridor, Nada langsung menyudutkan wanita tersebut di tembok, menekan tangan
wanita terbsebut ke tembok di atas kepala, tangan kanan Nadi menutup mulut
wanita tersebut
"kamu lebih menggairahkan kalo
lagi keringetan sama ngos-ngosan gini ya, beda pas kalo lagi mabok" dengan
santainya Nadi mengucapkan kalimatnya di telinga wanita tersebut" tempat
tersebut adalah tempat yang jarang disentuh oleh para guru atau penjaga sekolah,
hanya anak-anak yang cabut dari jam pelajaran menjadikan tempat tersebut
sebagai safe zone, berada di paling ujung dan hanya memiliki satu pandangan
yaitu ke bagian belakang komplek elit
"mau ngapain lu, jangan
macem-macem ini sekolahan" kalimat pertama yang muncul sesaat Nadi
melepaskan sekapannya di mulut wanita tersebut, sambil berusaha mengambil nafas
sebanyak-banyaknya, wanita tersebut terlihat sangat ketakutan. Melihat
pemandangan tersebut, Nadi menghentikan semua tindakannya lalu mundur sebanyak dua
langkah disusul dengan uluran tangannya untuk berkenalan
"saya Nadian, bisa panggil
saya Nadi" sambil tersenyum Nadi mengulurkan tangan seperti dia tidak
pernah melakukan apa-apa sebelumnya. melihat tingkah Nadi yang tiba-tiba
berubah 180' wanita tersebut semakin bingung sampai tidak berani menatap wajah
Nai. Hampir sekitar satu menit mereka tidak merubah gerakan, sampai ketika Nadi
mengamil langkah untuk meninggalkan wanita tersebut
"Artri, nama gw Artri"
Artri sendiri bingung kenapa dia malah memperkenalkan diri, padahal Nadi sudah
beranjak meninggalkannya. Nadi menghentikan langkahnya
"di deket sini ada ketupat
padang enak, saya mau makan, kamu harus ikut anggep aja ini langkah awal saya
mempertanggungjawabkan apa yang telah saya perbuat ke kamu sebelumnya"
tawaran Nadi yang tanpa memperdulikan sesuatu apa yang telah terjadi barusan
membuat Artri semakin bertanya, apakah benar dia ini seorang guru, tadi seakan
Nadi sangat bernafsu untuk menerkam Artri sejadi-jadinya namun tiba-tiba
manjadi sangat lembut.
"adek gw gimana, gak usah
bertele-tele, langsung aja ke poinnya" Artri mencoba untuk meluruskan
kepentingan dia datang ke sekolah, padahal tersirat dia mencoba menghindari
ajakan makan dari Nadi, guru mesum aneh.
"adik kamu sudah kembali ke
kelas, kita bisa membicarakan adikmu di luar sambil makan, apa ada yang salah
dengan ini?" Nadi menjawabnya santai sembari mengambil sapu tangan di
kantung celananya, kemudian dengan lembut dia membasuh keringat yang ada leher
Artri, menimbulkan perasaan aneh di tubuh Artri, kemudian dengan perlahan
basuhan tersebut berpindah ke kening Arti, tangan Nadi menyapu sisi kiri sampai
sisi kanan disitu Artri mulai berani untuk menatap wajah Nadi, wajah kalem
namun tersimpan ambisi di matanya. sosok yang membuat wanita seperti Artri
dengan mudahnya di bawa ke ruangan tidak jelas pada malam itu, sesaat ingatan
itu kembali dengan sigap Arta menepis tangan Nadi, tapi nadi malah menahan
kembali tangan Artri, kali ini genggamannya sangat lembut telapak tangan Nadi
tidak lagi menggenggam pergelangan tangan Artri melainkan telapak tangannya,
setelah sapu tangannya di letakan di pundak Artri, tangan Nadi merapikan rambut
arta dirapikan poni Artri sampai menutupi keningnya, kemudian meletakan tepian
rambut Artri ke bagian belakan telinga, selama Nadi melakukan hal tersebut
Artri hanya bisa kembali terpaku pada wajah Nadi yang kalem
"lepasin tangan gw!"
bentak Artri selagi Nadi mengusap bagian belakang rambutnya
"tangan kamu sudah bebas
sedari saya selesai di bagian poni" memerah muka Artri setelah sadar
dengan apa yang diucapkan Nadi, lalu dia sedikit menjauh. nadi menawarkan rokok
kepada Artri
"makasih, bukannya di sekolah
gak boleh ngerokok?" pertanyaan tersebut dibarengi dengan tangannya yang
mengambil satu batang rokok, lalu dengan cepat Nadi menyalakan api untuknya. Artri menerima tawaran rokok karena dia berfikir kalo dia merokok pikirannya bisa jadi lebih rileks
"emang kamu anak sekolah? itu
sih yang saya denger dari guru-guru perokok disini, peraturan itu cuma berlaku
buat siswa" balas Nadi berisikan sarkas
"elu gak ngerokok?" tanya
Artri kepada Nadi karena dia merasa canggung merokok sendirian di lingkungan
sekolah
"enggak, saya sudah berenti,
ini rokok tadi dapet razia, kalo kamu mau ini buat kamu terus sisanya saya
ambilkan di laci meja masih banyak disana" mendengar jawaban tersebut
Artri langsung mematikan rokoknya.
"ayo kita langusng ngomongin
adek gw aja, dimana tempat makannya?" Artri ingin cepat-cepat selesai dari
urusan ini dan segera pergi, karena sudah banyak perasaan dan pikiran tidak
karuan merasuki dirinya.
sepanjang mereka melewati lorong, yang terdengar adalah
teriakan murid mengejek mereka berdua
"uset, abis enak-enak nih
pa"
"bagi-bagilah pak, bawa ke
warung"
"gede njir, 34 34, 36 juga
bisa itumah"
"parah sendirian di pojok
parah pak Nad nih"
mendengar kegaduhan tersebut Artri hanya bisa pura-pura
memasang wajah santai, akhirnya dia tahu maksud dari Nadian merapikan
penampilannya. apa jadinya kalau tadi dia masih berantakan dan harus melewati
koridor yang penuh dengan murid-murid bangor. setibanya di lokasi, dan
menyelesaikan sarapannya Nadian membuka percakapan yang tidak disangka oleh
Artri
"saya lebih tertarik
membicarakan malam yang menggairahkan itu" ekspresi wajahnya kembali
menjadi Nadian yang penuh hasrat
"engga gini perjanjiannya, lu
bilang mau ngomongin adek gw, lagian gw juga udah anggep itu sebagai kegoblokan
gw, selama gak terjadi hal-hal yang diinginkan" ketus Artri
"kalo 12 bulan kedepan terjadi
sesuatu gimana?" bisik Nadi sambil mendekatkan bibirnya di telinga Arti
"tunggu jangan bilang
lu......?" Artri mencoba melawan dugaannya serentak tangannnya mendorong
tubuh Nadi
"ikut saya ke tempat waktu itu
dan kita buat lagi semuanya jelas, serasa ada yang kurang" kembali tangan
Nadi menggenggam lengan Artri lalu menyeretnya ke mobil, Artri ikut tanpa
perlawanan, dipikirannya terganggu oleh dugaannya yang terlalu jauh, dia
benar-benar tidah ingat apa yang terjadi malam itu
Selasa, 09 Januari 2018
Honorer Relationship
Sudah berakhir hari libur, Nadian
mulai mengeluhkan kembali rutinitasnya menunda alarm sampai pada waktu teriakan
ibunyalah yang membangunkannya. Sejak kecil Nadi memang tidak bisa bangun
sendiri, kalau bukan ibunya yang membangunkannya. Pekerjaannya yang sekarang
dirasa berat untuknya karena dia harus bangun sangat pagi agar tidak telat
sampai tempat kerjanya. Sembari memanaskan vespanya Nadi menyantap sarapan nasi
uduk dan teh manis panasnya, sarapan yang paling cocok untuk pria yang sulit
bangun pagi, makanan cepat saji pagi hari.
”kamu harusnya dibiasakan loh mas
bangun pagi, apalagi kerjaanmu yang sekarang” nasehat saban hari yang selalu
terucap dari ibunya disetiap mereka sarapan bersama
“Nadi jadi pengen tau kalo nanti
bukan bunda yang bangunin Nadi?” balas Nadi yang jauh dari kalimat jawaban
“maksud kamu?” heran ibunya
mendengar anak semata wayangnya yang sekan melantur
“ya kalo nanti Nadi punya istri,
dan dia yang bangunin gimana ya?” jawab Nadi sambil memasang muka lucu di depan
ibunya
“halah cangkemu, palingan gak sampe
seminggu istrimu minta cere, karena susah bangunin kamu” balas ibu Nadi sambil
mencubit sikut Nadi
“ah bunda mah gitu sih, mana ada
belum seminggu minta cere?” tukas Nadi sambil memasang muka masam”
“lagian kamu ini yang engga-engga
aja, bunda aja belum pernah denger kamu deketin siapa, apalagi liat” balas ibu
Nadi sambil memasukan bekal untuk anaknya.
“bunda mau yang macem apa, sebut
aja bun sebut” Nadi menjawabnya dengan gaya sengak dan sok ganteng tersebut
“yang kaya apaya, bunda bingung
sih, kalo dulu pas jaman bunda yang cocok buat calon mantu mah yang pinter
masak, cantik, bibirnya tipis, rambutnya sepinggang, ada lesung pipinya,
giginya gingsul, pinter nari, bisa main alat musik” jawabnya dengan nada yang
lembut sambil tersenyum
“yaaaaahh, itu mah bunda, iya bun
iya bunda doang emang yang paling emang” Sebal Nadi mendengar jawaban guyon
bundanya
“yasudah berangkat sana, bekalmu
sudah bunda masukan di dalam tas, kalo janda sebelah ngegodain jangan tergoda”
“yakalo godaannya maut, dikit mah
bisa kali bun” jawab randi sambil senyum licik dibarengi dengan cubitan di pipi
bundanya
“bisa bunda gesperin pala kamu”
jawab bunda Nadi kesal
“oke bun aku berangkat ya”
Setelah earphone terpasang Nadi menark gas motornya kemudian berlalu. Berangkat
pagi memang menguntungkan bagi warga Jakarta karena lalu lintas belum terlalu
padat, jadi Nadi bisa menikmati perjalanan sambil menikati lagu-lagu Oasis dari
handphone-nya.
“nah ini dia bocahnya sampe juga”
teriak salah satu sapaan dari sudut ruangan kerja Nadi
“alesan apa lagi Pak Nadi, macet,
ban kempes, vespanya masalah?” sambung salah satu perempuan yang ada di ruangan
tersebut
“iya ngapa yak?” Nadi menjawab
seadanya sambil tertawa
“ngapa tauk, elu hari ini kan
pidato, harusnya cepet dikit datengnya, dikiiiiiiiiiit” balas Fadlan sambil
melayangkan sentilan di teinga kanan Nadi
“lah ini kan hari pertama, harusnya
bos besar yang lakuin” Nadi menjawabnya sok tau. Nadi memang menganggap enteng
masalah ini, dia tau kalau kali ini adalah jadwal dia pidato, tapi dia mengira
akan digantikan dengan orang lain yang lebih layak
“alesan aja ini si ganteng” celetuk
salah satu perempuan tua di ruangan tersebut
Setelah beberapa rangkaian, tibalah
saatnya Nadi untuk berpidato, ditengah pidatonya terdengar suara “alah bacotlu
pa!” teriakan tersebut terdengar jelas sampai ke setiap gendang telinga semua
peserta. Nadi menghentikan pidatonya sementara lalu tidak sampai satu menit
melanjutkan kembali. Setelah kegiatan selesai semuanya kembali ketempatnya,
tapi tidak dengan Nadi, dia berlalri dan mengejar seseorang yang mengganggu
pidatonya, sambil memasang muka merah dia menggenggam tangan orang tersebut
sekuat-kuatnya lalu menyeretnya ke ruangannya.
“bapak mau kamu panggil orang tuamu
sekarang juga, bapak tunggu!” tanpa basa basi Nadi membentak anak tersebut
“mereka gak mungkin datang pak,
apapun alesan bapak mereka gak mungkin datang” balas anak tersebut secara
santai
“siapapun wali kamu bapak ingin
menemuinya pagi ini!?” tanpa jeda Nadi melanjutkan perintahnya ke anak tersebut
30 menit berlalu kemudian ada seorang
perempuan berpakaian sangat formal diantar sampai ke meja Pak Nadi, tidak salah
lagi, dialah orang yang di tunggu-tunggu Nadi. Kaget Nadi melihat siapa yang
ternyata menemui dia, seorang perempuan yang dia rasa kenal baru-baru ini. Perempuan
tersbeut memperhatikan tangan adiknya yang memerah sementara Nadi masih terpaku
pada tatapannya.
“oh jadi buat ini adik saya……” belum
sempat perempuan tersebut menyelesaikan kalimatnya, rasa kaget membuat dia tak
bisa melanjutkan omongannya. Rasa kaget Nadi meningkat menjadi bingung yang
menggaung di kepalanya
“elu! Ngapain lu di sini, apa-apaan
ini!?” perempuan tadi tidak melanjutkan kalimat sebelimnya melainkan
melontarkan pertanyaan lain dengan nada sangat tinggi, suaranya terdengar ke
seluruh ruangan, untung saja saat itu hanya tersisa dua orang guru yang tidak
ada jadwal di jam pertama
“jadi pak Nadian gimana rasanya
meniduri wanita cantik yang sedang mabuk!?” perempuan tersebut melontarkan
pertanyaan lainnya seblum Nadi menjawab pertanyaan sebelumnya. Sontak dua orang
guru yang ada di ruangan tersebut memusatkan mata dan telinga ke arah meja Pak
Nadian
Tanpa basa basi Nadi menarik
perempuan tersebut keluar ruangan menuju ke sudut koridor kelas
Minggu, 24 Desember 2017
Roda Dua Berbeda Rasa
Asalamuallaykum
warahmatullahi wabarakatu, semoga kalian yang baca blog ini sehat selalu,
baek-baek aja hidupnya baik yang dengan sengaja baca, atau gak sengaja nyasar
gegara nyari gambar atau search sesuatu di google tapi ngarahnya ke blog gw.
Fyi aja nih mungkin ini tulisan terakhir blog gw di tahun ini, tadinya gw mau
nulis kaledioskop gitu, tapi mainstream gitu dan hidup gw juga jauh di bawah
mainstream, standard sesetandardstandarnya, bisa dibilang, kayaklu standarin
motor miring di tempat miring nah ada anak kecil maen tokadal dua batu di atas
motor gw, udahan mereka pasti. Bicara tentang motor, disini gw mau bahas
rasanya naek di atas motor dengan berbeda-beda jenis motor
Dilahirkan
sebagai anak gang, menuntut gw untuk mahir dalam mengendarai motor, karena
manfaatnya banyak kalo lu mahir naik motor di dalem gang, semisal ada
tetanggalu beli motor baru terus mereka sombong, biarin aja ya namanya tetangga
mah emang gitu, gak usah dipikirin, nanti juga
pindah dia, apalagi masih ngontrak gitu.
1. Motor
Bebek
Dimulai dari
motor yang paling besik, kenapa gw bilang besik, karena kalo gw bilang basic gw ribet nulisnya harus
dimiringin. Perasaan naek motor ini ya sekedar, gak ada rasa yang istimewa dari
motor ini, lu dibilang keren engga, dibilang pinter engga, dibilang yatim juga
engga, dibilang tukang galon bisa jadi. “tuh ada orang naek motor”
|”mana-mana?” | “itu” “mata motoran!!!” yaudah paling gitu doangan, sesekedar
itu
2. Motor
Metik
Naek motor ini
lebih memiliki nilai kemanusiaan yang lebih, karena gw gak usah capek-capek
mindahin gigi, gak usah capek-capek nganter galon, semua tinggal tarik gas, dan
motornya berfungsi sebagaimana mestinya, untuk manufer sendiri gw akuin gw
lebih jago nyalip-nyalip di kemacetan kalo naek motor metik, terus kalo ngebut
rasanya gw lebih safety pas naek
metik. Motor ini kebanyakan dicintai oleh kaum wanita dan dinistakan oleh para
ibu-ibu.
3. Motor
Gede/Lakik
Mengendarai
motor gede itu sedikit menumbuhkan rasa percaya diri gw sebagai laki-laki,
karena motor ini identik dengan motornya para laki2, yang gw rasain naek motor
ini disamping gw ngerasa jadi lebih keren sebagaimana mestinya, motor ini juga
nyaman bet buat dibawa pelan atau kenceng. Oh iya motor ini juga bisa masuk di
kategori motor mesum, karena posisi duduk penumpang jauh lebih tinggi dari
posisi duduk pengendara, apalagi kalolu lewat jalan kampung yang udah puluhan
tahun, polisi tidurnya banyak bet, setiap dua rumah ada polisi tidur, ya lu tau
dah yakan kalo bawa cewe gimans, kasih KIT joknya biar licin, terus anuan dah, easy as fak.
4. Motor
RX King
Njay gujay
wadadaw kalo bawa motor ini mah, satu-satunya motor impian gw, perasaan naek
motor ini jan ditanya lagi dah, gw ngerasa jadi bajingan kalo naek motor ini,
knalpot berisik kenceng jangan ditanya, orang gw pernah naek motor ini, samping
gw ada ibu2 naek motor, lah itu ibu2 langsung melukin tasnya, apa coba kalo gak
suudzon dia ama gw?? padahal muka gw udah gw lucu2in, tapi lu jangan coba2 naek
motor ginian tengah malem masuk gang, abis diinjek leherlu ntar.
5. Motor
Ninja 250
Gw berasa jadi
orang ganteng seada-adanya, berasa punya duit banyak seaer-aer gw kalo naek
motor ninja, kalo gw punya motor ginian gak kuliah kali gw, lah orang ganteng
sama punya duit ngapain kuliah njir. Apalu motor gw ninja 250. Kalolu boncengin
cewek nih ya, engga duduk tuh cewek, rebahan yang ada di punggunglu, itu motor
gak lulus sertifikasi halal, anjir motor maksiat itu.
6. Vespa
Udeh lah udeh,
kalo ada yang bilang naek vespa ganteng, cowok bawa vespa keren, cowok naek
vespa itu kharismanya dapet, persetan njir!!! stereotip itu, gw udah hampir 8
tahun naek vespa, senengnya Cuma tahun2 pertama karena gw kemakan stereotip
yang beredar, sisanya ya capek, pegel, ngerawatnya harus sabar, apalagi kalo lu
abis dari jalan jauh, macet, itu yang gw cari orang Madura, biar gw rongsokin
motornya, terus gw naek angkotdah pulangnyaa, kalo emak gw nanya “mas motornya
mana?” | “ma, mas iyang gak mau durhaka hanya karena pertanyaan spele”. Laen hal
kalolu yang dibonceng, jok vespa itu empuk bet, demi Allah dah, motor 50jt juga
kalah nyamannya sama jok belakang vespa. jangan dah gw saranin, kecuali lu
orang yang sabar dan penuh kasih sayang, lu beli dah vespa gw.
7. Motor
Balap Liar
Perasaan naek motor
ini tuh kayak lu boncengin malaikat maut, tapi dia duduk didepan, kayak kalolu
boncengin anak kecil mintanya duduk di depan, yang kerjaannya nanya mulu kalo
liat sesuatu di jalan. Lah ini malaikat yang duduk didepan, kalo dia nanya lu
bisa jawab apaan?
8. Motor
Anak Turing
Rasanya naek
motor ini beda bet dari motor-motor yang pernah gw naekin di atas, naek motor
ini rasanya gw gak cukup kalo cuma jalan sejauh 3km ato 10km maunya tuh jalan
Jakarta-rawa gembong, itupun minimal, oh iya sama kalo naek motor ini gw
bawaannya pengen bet jalan lewat jaglukan kenceng2, soalnya gak terasa kalo ada
jaglukan gitu.
9. Motor
Trail
Gw sekali naek
motor ginian, dan Alhamdulillah pas banget gw dipinjemin motor sama Bagus
bertepatan gw lagi di puncak, dan gw ketemu dia, katanya dia abis gathering gitu, dang w juga lagi ada
silakbar, gw pinjem dah tuh motor dia buat naek-naek bukit, anjay gak terasa
sama sekali kalo ada kerikil, gw rasanya itu jalanan biasa, kayak dorong troli
belanjaan di Mall yang mahal, yang lantainya bukan keramik.
10. Naek
vespa boncengin kamu
Ya Allah damai bet
rasanya gak ada beban, biarpun yang gw boncengin gak pegangan gw ngerasa
dipegang sama malaikat, jadi aja badan gw ringan dan tenang, janganpun
Tangerang, Alas Roban bolak balik juga kuat gw.
semua gambar berasal dari google.com
Senin, 13 November 2017
Karena 90an Rusak Kids Zaman Now Sebelanga
Assalamuallaykum wr. wb aduh gimana ya, gw minta maaf ini
baru apdet, sibuk gw mikirin konten buat kepengangguran gw, oh iya sebagaimana
yang kalian tau sebelumnya, gw apdet kalo galau, untuk kali ini engga dan
semoga seterusnya engga (se-mo-ga) semoga, gw akan apdet kalo lagi apdet, jadi
kapan aja bisa apdet J
tapi gw bingung, udah setahun lebih blog gw gak gw buka yang baca udah puluhan ribu yang baca, orang goblog mane coba yang nyasar kemari? FYI nih ya, buat
tulisan cerpen, puisi, cerita bersambung dari agasinkron, bisa kalian buka www.kandanghuruf.tk (kalo gak bisa dibuka berarti lagi perbaikan) maklum blog buat isi rekening biar jadi orang kaya. untuk blog yang ini cuma
tulisan sekedar aja.
“yaelah kids jaman now” “emang dah kelakuan bocah-bocah alay”
“gak jauh udah bocah pala koreng kelakuannya”
Setiap zaman selalu ada aja istilah
buat mereka yang umumnya lebih muda dari kita dan perilakunya gak sesuai yang
diharapkan (tindakan negatif) dalam hal ini gw jadi inget mata kuliah “Teori
Belajar Pembelajaran” kalo kalian kuliah di kampus pendidikan pasti dapet mata
kuliah ini, dalam kuliah tersebut ada beberapa yang gw jadiin pedoman gw jika
gw jadi tenaga pendidik profesional atau jadi orang tua nanti “murid tidak
pernah salah” kalimat tersebut tertulis di modul TBP, gw lupa siapa penulisnya
*maaf* mungkin kalo buat beberapa orang, kalimat itu gak bisa begitu aja
disepakati. Entah kenapa pas gw baca modul itu, gw sangat sepakat dengan
kalimat itu. Okey kenapa gw bawa-bawa kids
zaman now sama mata kuliah pendidikan?
Kita yang dewasa, anggap saja kita
kelahiran tahun 90an, yang sering kita bangga-banggain tuh tahun kita, padahal
tahun itu Indonesia lagi pontang-panting. Kita yang bangga-banggain orgasme
berkepanjangan dihadapan kids zaman now
banding2in lagu kita lebih bagus lah, acara televisi kita lebih bagus lah,
pergaulan kita lebih baik lah, main kelereng, becek-becekan, maen bola antar kampung,
maen berbi-berbian, dll yang bisa dilakukan bersama, alah persetan. Hanya karena
hal itu semua kita menghakimi anak-anak muda di bawah kita kalau mereka
generasi yang buruk. Kita yang selalu bangga dengan zaman kita hingga lupa
bagaimana caranya mendidik anak-anak di bawah kita, yang bisa kita lakukan cuma
menghakimi, caci-maki, banding-bandingin. Padahal kalian dulu pasti benci kan
kalo pas di sekolah atau dirumah dibanding-bandingin.
“murid tidak pernah salah” kalo
kalian ngerasa superior, punya power, punya suara yang bisa didenger sama yang
lebih muda, harusnya kalian nasehatin, arahin yang bener, “ini loh dek begini” “jangan
gitu dek, efeknya nanti gini-gini” jangan kita malah “dasar kids zaman now, bocah alay!” ya emang
mereka anak bocah, mau diapain lagi, elu kata-katain sampe lidahlu berdarah
bernanah percuma, karena hal tersebut gak mendidik sama sekali
Contoh kecilnya, sekarang lagi
musim game Mobile Legend atau DoTA, kalolu tau di timlu ada anak bocah SD, ato
SMP, SMA sederajat jangan dikatain, kasih motivasi “don’t give up, game is hard, hang on we will win this game, well
played, relax you are doing fine” atau bisa juga suruh uninstal gamenya,
suruh belajar sama sekolah yang bener, aduin ke orang tuanya kalo anaknya cuma
buang-buang kuota sama listrik. Nah kalo
sepantaran lu kata-katain gapapadah
Nah kalo di lingkungan rumahlu ada
anak-anak belia pada nongkrong gak jelas, ngelakuin tindakan yang gak
sewajarnya (padahal nongkrong juga gak baik sih buat bocah-bocah SD SMP) kalian
buabarin aja tongkrongannya, jangan bisanya cuma nyinyir di medsos, emang
mereka kenal samalu di medsos, diskusiin ke RT atau karang taruna. Sesimpel itu
kok.
sumber : jamber bagus
Sabtu, 18 Februari 2017
Tanpa Piala #4 -Bertemu Sasha
"kamu apa kabar Sasha??" belum lewat lima detik Radi membantingkan badannya di kursi, pertanyaan basa basi itu keluar begitu lancar
"gak usah sok asik Di, aku tau kamu gak baca surat dari aku, kamu pergi gitu aja!" ketus Sasha membalas basa basi Radi. seketika suasana menjadi tegang sekaligus hening, cukup lama untuk Radi merespon Sasha
"aku minta maaf, gak ada yang bisa aku jelasin disini, semuanya pasti salah nantinya, kita baru bertemu tidak bisakah kita beritngkah sewajarnya?" Radi mencoba untuk mencairkan suasana, tapi mau dikata apa lawan bicaranya adalah perempuan yang ditinggal tanpa kabar dengan waktu yang cukup lama
"udah gitu aja? kamu gak mau jelasin apa-apa!? kamu gak ngerti apa kalo orang butuh penjelasan!?" makin geram Sasha melihat kelakuan Radi
"aku mau pesen makan dulu, kamu mau aku pesenin roti kismis pake madu?" roti kismis madu itu makanan kesenengan Sasha
"gak usah! aku udah gak suka sama roti kismis madu!?" kekesalan Sasha makin bertambah melihat tingkah Radi yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka
"kamu kurus, pipi kamu jelek, gak usah banyak gaya, aku gak suka ngeliat pipi kamu tirus, kamu bukan supermodel" datar Radi membalah jawaban Sasha yang ketus
"TERSERAH!" balas Sasha sambil memalingkan mukanya kearah jendela
langit sore mulai melukiskan cahaya senja yang menerawang dibalik awan, semburatnya memancar berpantulan di kaca gedung pencakar langit. makanan sudah tersedia di meja, tapi Sasha masih teguh pada pendiriannya untuk tidak makan, dia hanya minum air mineral yang dibawa dari rumahnya
"di luar masih masih banyak orang yang kelaparan, mereka rela makan makanan dari tempat sampah, kamu jangan kufur gitu, gak seharusnya guru beritngkah kayak gini" tanggapan Radi yang seperti itu membuat Sasha merubah pikirannya, dimakanlah roti kismis madu tersebut
"biasa aja, gak enak. nanti kalo udah abis aku mau pulang" masih saja Sasha memberi respon ketus terhadap Radi, hatinya dan pikirannya masih menunggu penjelasan dari Radi, bertahun-tahun dia menunggu saat seperti ini, tapi Radi tak kunjung memberi penjelasan
"nanti aku yang buatin kayak biasa, biar kamu bilang enak. Sha aku minta maaf sekali lagi, sekarang aku minta maaf, nanti kamu pulang aku juga minta maaf, besok kamu bangun aku minta maaf, besoknya lagi aku minta maaf, besoknya juga aku minta maaf, seterusnya aku akan minta maaf, aku bilang sekarang aja biar aku gak keseringan minta maaf" Radi mulai serius dengan percakapannya
"kamu emang bisanya cuma minta maaf, itu doang kemampuan kamu" Sasha masih saja dingin menanggapi Radi
"aku pergi karena ingin tau, mampu gak aku tanpa ada kamu" Radi menjawab datar sambil matanya menatap mata Sasha dalam-dalam
"oh jadi emang sengaja" makin geram Sasha mendengar pernyataan Radi
"sudah Sasha gak usah seperti anak kecil gitu tanggapan kamu, kamu bahkan gak tanya apakah aku sanggup" Radi memotong pembicaraan Sasha sambil mulai menggenggam tangan Sasha lembut. Sasha mulai terdiam memikirkan apa yang barusan dikatakan Radi, sanggupkah ia menjalaninya, Sasha tak pernah memikirkan hal tersebut, dia pikir hanya dia yang memikirkan hal seperti itu, memang benar tidak ada yang sanggup hidup jauh dari kesayannya.
"Radi sudah mau maghrib, aku mau pulang" parau Sasha meminta, dia tau dia akan menangis Radi tidak suka melihat perempuang menangis Sasha gak mau melihat Radi kebingungan
Di dalam mobil Sasha hanya terdiam, membiarkan badannya terbenam semakin dalam di kursi penumpang, sementar Radi terlihat gelisah, entah karena macetnya jalanan atau bingung harus apa agar Sasha tidak bersikap seperti itu.
"aku mau cerita gimana aku di Ceko, gimana aku hidup tanpa kamu" Radi berbicara sekenanya, ditanggapi syukur engga ya gapapa, abis mau gimana cewe kalo udah begitu mau diapain
"yaudah cerita aja" Sasha mulai antusias merespon Radi
"besok aja tapi, biar waktunya banyak" modus Radi agar Sasha mau diajaknya bertemu kembali
"yaudah kalo gak niat cerita gak usah" kesal Sasha mendengar tanggapan Radi yang seakan mempermainkannya
"ya emang banyak Sasha yang harus diceritain" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar besok mereka bisa bersama lagi
"besok aku sibuk, udah akhir tahun ajaran" ada saja alasan yang keluar dari mulut ibu guru ini
"sibuk bukan berarti gak pulang kan dari tempat kerja? oh iya pasti alesan selanjutnya capek" Radi menerka apa alasan yang nantinya akan dilontarkan Sasha
"nah itu kamu tau kan, yaudah emang beloum ada waktunya yang pas kali, kamu kerja aja, emang kamu gak ada kerjaan apa disini?" bego emang Radi, udahlah abis lah lu lagian, maut dijemput, gak ada alesan laen kanlu buat bujuk Sasha
"yaudah Sasha kita udah sampe, salam buat mama papa kamu, jangan lupa makan" datar Radi mengatakannya, bahkan matanya hanya melihat pedal gas mobilnya
"makasih" Sasha membalasnya dengan satu kata datar, kemudian iya berjalan cepat menuju pagar rumahnya.
"Sasha! kamu orang pertama yang aku pengen temuin di Jakarta, tapi kamu gak bisa, kamu tau kan aku malu untuk bilang rindu, harusnya aku bilang tadi saat kita makan, aku rindu kamu Sasha, Sasha kamu cantik pake baju ini, Sasha aku suka parfume kamu, kapan kamu ganti parfume, dulu gak semanis ini baunya? Sasha rambut kamu lucu kalo di kuncir kuda kayak tadi, pas sama muka kamu yang lagi jutek, aku suka kamu tanpa kacamata, mata kamu udah gak minus emangnya? hells kamu kekecilan, ringkih aku liatnya, besok pake sneaker aja, ato pake teplek, sama aja cantikna kok. Sha tapi apapun kamu, aku rindu, Sha kamu tau kan aku sayang sama kamu?? diucapkan hal itu semua tanpa ada jeda, Radi memeluk Sasha dari belakang, tangannya melingkar di leher Sasha semua kalimat tersebut tepat diucapkan di telinga Sasha. mendapat perlakuan tersebut Sasha hanya bisa diam, tidak pernah Radi mengatakan rindu, baru kali ini dia mengatakannya. merasakan tidak ada respon apa-apa dari Sasha, Radi segera menyudahi perlakuannya, kemudian membukakan pagar rumah Sasha, untuk selanjutnya pergi
"Maaf Sasha, aku pulang :)"
"ati-ati" terdengar datar Sasha merespon Radi, kepalanya menghadap kakinya sendiri, jarinya merapikan rambutnya ke arah belakang telinga, dengan sekejap dia membalikan badannya lalu menutup pagar rumahnya.
"gak usah sok asik Di, aku tau kamu gak baca surat dari aku, kamu pergi gitu aja!" ketus Sasha membalas basa basi Radi. seketika suasana menjadi tegang sekaligus hening, cukup lama untuk Radi merespon Sasha
"aku minta maaf, gak ada yang bisa aku jelasin disini, semuanya pasti salah nantinya, kita baru bertemu tidak bisakah kita beritngkah sewajarnya?" Radi mencoba untuk mencairkan suasana, tapi mau dikata apa lawan bicaranya adalah perempuan yang ditinggal tanpa kabar dengan waktu yang cukup lama
"udah gitu aja? kamu gak mau jelasin apa-apa!? kamu gak ngerti apa kalo orang butuh penjelasan!?" makin geram Sasha melihat kelakuan Radi
"aku mau pesen makan dulu, kamu mau aku pesenin roti kismis pake madu?" roti kismis madu itu makanan kesenengan Sasha
"gak usah! aku udah gak suka sama roti kismis madu!?" kekesalan Sasha makin bertambah melihat tingkah Radi yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka
"kamu kurus, pipi kamu jelek, gak usah banyak gaya, aku gak suka ngeliat pipi kamu tirus, kamu bukan supermodel" datar Radi membalah jawaban Sasha yang ketus
"TERSERAH!" balas Sasha sambil memalingkan mukanya kearah jendela
langit sore mulai melukiskan cahaya senja yang menerawang dibalik awan, semburatnya memancar berpantulan di kaca gedung pencakar langit. makanan sudah tersedia di meja, tapi Sasha masih teguh pada pendiriannya untuk tidak makan, dia hanya minum air mineral yang dibawa dari rumahnya
"di luar masih masih banyak orang yang kelaparan, mereka rela makan makanan dari tempat sampah, kamu jangan kufur gitu, gak seharusnya guru beritngkah kayak gini" tanggapan Radi yang seperti itu membuat Sasha merubah pikirannya, dimakanlah roti kismis madu tersebut
"biasa aja, gak enak. nanti kalo udah abis aku mau pulang" masih saja Sasha memberi respon ketus terhadap Radi, hatinya dan pikirannya masih menunggu penjelasan dari Radi, bertahun-tahun dia menunggu saat seperti ini, tapi Radi tak kunjung memberi penjelasan
"nanti aku yang buatin kayak biasa, biar kamu bilang enak. Sha aku minta maaf sekali lagi, sekarang aku minta maaf, nanti kamu pulang aku juga minta maaf, besok kamu bangun aku minta maaf, besoknya lagi aku minta maaf, besoknya juga aku minta maaf, seterusnya aku akan minta maaf, aku bilang sekarang aja biar aku gak keseringan minta maaf" Radi mulai serius dengan percakapannya
"kamu emang bisanya cuma minta maaf, itu doang kemampuan kamu" Sasha masih saja dingin menanggapi Radi
"aku pergi karena ingin tau, mampu gak aku tanpa ada kamu" Radi menjawab datar sambil matanya menatap mata Sasha dalam-dalam
"oh jadi emang sengaja" makin geram Sasha mendengar pernyataan Radi
"sudah Sasha gak usah seperti anak kecil gitu tanggapan kamu, kamu bahkan gak tanya apakah aku sanggup" Radi memotong pembicaraan Sasha sambil mulai menggenggam tangan Sasha lembut. Sasha mulai terdiam memikirkan apa yang barusan dikatakan Radi, sanggupkah ia menjalaninya, Sasha tak pernah memikirkan hal tersebut, dia pikir hanya dia yang memikirkan hal seperti itu, memang benar tidak ada yang sanggup hidup jauh dari kesayannya.
"Radi sudah mau maghrib, aku mau pulang" parau Sasha meminta, dia tau dia akan menangis Radi tidak suka melihat perempuang menangis Sasha gak mau melihat Radi kebingungan
Di dalam mobil Sasha hanya terdiam, membiarkan badannya terbenam semakin dalam di kursi penumpang, sementar Radi terlihat gelisah, entah karena macetnya jalanan atau bingung harus apa agar Sasha tidak bersikap seperti itu.
"aku mau cerita gimana aku di Ceko, gimana aku hidup tanpa kamu" Radi berbicara sekenanya, ditanggapi syukur engga ya gapapa, abis mau gimana cewe kalo udah begitu mau diapain
"yaudah cerita aja" Sasha mulai antusias merespon Radi
"besok aja tapi, biar waktunya banyak" modus Radi agar Sasha mau diajaknya bertemu kembali
"yaudah kalo gak niat cerita gak usah" kesal Sasha mendengar tanggapan Radi yang seakan mempermainkannya
"ya emang banyak Sasha yang harus diceritain" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar besok mereka bisa bersama lagi
"besok aku sibuk, udah akhir tahun ajaran" ada saja alasan yang keluar dari mulut ibu guru ini
"sibuk bukan berarti gak pulang kan dari tempat kerja? oh iya pasti alesan selanjutnya capek" Radi menerka apa alasan yang nantinya akan dilontarkan Sasha
"nah itu kamu tau kan, yaudah emang beloum ada waktunya yang pas kali, kamu kerja aja, emang kamu gak ada kerjaan apa disini?" bego emang Radi, udahlah abis lah lu lagian, maut dijemput, gak ada alesan laen kanlu buat bujuk Sasha
"yaudah Sasha kita udah sampe, salam buat mama papa kamu, jangan lupa makan" datar Radi mengatakannya, bahkan matanya hanya melihat pedal gas mobilnya
"makasih" Sasha membalasnya dengan satu kata datar, kemudian iya berjalan cepat menuju pagar rumahnya.
"Sasha! kamu orang pertama yang aku pengen temuin di Jakarta, tapi kamu gak bisa, kamu tau kan aku malu untuk bilang rindu, harusnya aku bilang tadi saat kita makan, aku rindu kamu Sasha, Sasha kamu cantik pake baju ini, Sasha aku suka parfume kamu, kapan kamu ganti parfume, dulu gak semanis ini baunya? Sasha rambut kamu lucu kalo di kuncir kuda kayak tadi, pas sama muka kamu yang lagi jutek, aku suka kamu tanpa kacamata, mata kamu udah gak minus emangnya? hells kamu kekecilan, ringkih aku liatnya, besok pake sneaker aja, ato pake teplek, sama aja cantikna kok. Sha tapi apapun kamu, aku rindu, Sha kamu tau kan aku sayang sama kamu?? diucapkan hal itu semua tanpa ada jeda, Radi memeluk Sasha dari belakang, tangannya melingkar di leher Sasha semua kalimat tersebut tepat diucapkan di telinga Sasha. mendapat perlakuan tersebut Sasha hanya bisa diam, tidak pernah Radi mengatakan rindu, baru kali ini dia mengatakannya. merasakan tidak ada respon apa-apa dari Sasha, Radi segera menyudahi perlakuannya, kemudian membukakan pagar rumah Sasha, untuk selanjutnya pergi
"Maaf Sasha, aku pulang :)"
"ati-ati" terdengar datar Sasha merespon Radi, kepalanya menghadap kakinya sendiri, jarinya merapikan rambutnya ke arah belakang telinga, dengan sekejap dia membalikan badannya lalu menutup pagar rumahnya.
Sabtu, 03 September 2016
Tanpa Piala #3 -Membujuk Sasha-
dengan cepat Sasha membanting tubuhnya ke kasur, menghela nafas panjang, lalu menahan napas beberapa saat, kemudian dia ambil foto selfie, hasilnya gitu deh. selepas dia upload ke jejaring sosial, tidak lama handphonnya bergetar, pesan masuk dari Radi. "halo Sha, aku anu sa" dengan heran Sasha membaca dan memahami pesan dari Radi, dia tidak juga memahaminya, akhirnya dia membalasnya sesuai apa yang dia rasakan "kamu kenapa Radi?" | "anuan Sha aku ada di Jakarta, tapi aku bingung, aku ada di bandara, terus aku gak bisa pulang, aku gak tau naik apa, terus gak ada yang keluarga yang bisa jemput, kamu mau tolongin aku ga?" Sasha masih bingung, dalam pikiran Sasha hanya ada satu pertanyaan, "ini cowo macem apaan dah, masa takut pulang sendirian, apa jangan2 dia mau modus" pertanyaan itu terus dipertanyakan sampai akhirnya Sasha ketiduran. Radi pusing dan bingung, dia terus scroll kontaknya sampai akhirnya dia berhenti di salah satu nama, Haqi. tanpa memikirkan apakah nomernya masih aktif atau tidak Radi langsung menghubungi Haqi, singkat cerita Radi dijemput oleh Haqi, Haqi adalah temen Radi, temen sepergalauan setiap Radi galau dia selalu cerita ke Haqi, sebaliknya Haqi juga seperti itu. "untung aja adalu Haqi, kalo engga gw bingung mau gimana, masa iya gw tidur di bandara" | "ya elu lagian yang engga2 aja, cowo bingung pulang? lu mau gimana nih, langsung pulang apa nongkrong2 dulu?" | "boleh tuh kayaknya kalo nongkrong dulu, bayarin yak, hehehehe" | "Ya Allah, lu kerja doang di Ceko, nongkrong masih aja minta bayarin"
Haqi memutuskan untuk nongkrong di kedai teh, dengan nuansa lampu warna putih setibanya disana Radi langsung bertanya kepada Haqi "loh kok kita kemari, ngapain ngeteh? kan udah malem, ntar diabetes" |
"oh iyaya lupa gw, yaudah kita pindah aja, akhirnya mereka pindah ke kedai greentea low sugar. mereka memesan kopi dengan roti bakar.
"eh gimana, lu udah hapal berapa juzz?" Haqi memulai percakapan basa-basi,
"ya masih gini2 aja baru nambah 2 juzz, lu gimana?" |
"gak beda jauh samalu, gw baru nambah 2 juzz tambah se ain 2 ain" *ini request dari ibu gw, kalo mau nulis cerita harus ditambahin bumbu islami
"eh iya Qi, gimana kabar keluarga lu"? |
"alhamdulillah ayah sama ibu gw sehat" |
"bukan itu maksud gw, gw kira lu udah berkeluarga" |
"doain aja, bulan depan gw lamaran" |
"uwooooowwww, iya gw doain kok Qi" |
"lu sendiri gimana? masih Sasha?" |
"hahahaha, hahahah, hahahah. keparatlu nanyanya T.T" |
"udah gak usah sedih gitu, mecin emang bikin pusing. hahahaha" |
"taudah, udah 5 tahun padahal, masih aja kepikiran gw, dia apa kabar ya? tadi sih gw sms, mau minta tolong dijemput gw, eh dia gak bales, udah males kali dia sama gw ya? |
"ketiduran kali dia" |
"mana ada, kan gw minta tolong, bukan minta yang macem2" |
"makanya jangan pergi untuk melupakan, karena setiap yang pergi pasti butuh peta kepulangan" | "gak gitu Qi, gw pergi biar jadi lebih baik, biar gw bisa buktiin apa yang ditulis Sasha di suratnya, ya walaupun gw tau dia juga gak akan terima gw, udah kebaca dari pembukaan suratnya, cewek kan kalo nolak alus bertele2, lagu lama kaset kusut itumah" |
"lagian lu dulu kenapa sih gak buru2 jadian aja sama Sasha? gw rasa dia bete, kelamaan jalanin yang gak jelas kayak gitu" | Haqi bertanya mulai serius, dengan merendahkan nada suaranya, karena ini pertanyaan yang dari dulu ingin dia tanyakan.
Radi membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas panjang, tidak berbicara untuk beberapa detik, Radi baru berbicara setelah meminum sedikit kopinya
"gini Haqi, mendingan mana jalanin hubungan yang gak jelas tapi jelas jalaninnya apa jalanin hubungan yang jelas tapi gak jelas jalaninnya? emang gw kayak gitu gak jelas nama hubungannya, tapi kita gak pernah namanya konflik2 gak jelas, berantem2an lah masalah sepele, sekalinya ada konflik, palingan masalah pola pikir dan sudut pandang,semisal jalan ato ketemuan ya yang ada seneng2 aja, jelas kan gw jalaninnya, lah sekarang lu liat yang pacaran, emang jelas nama hubungan mereka, tapi konflik mereka aneh menurut gw, cemburu2anlah, mau maen aja kadang dilarang, itu yang gw bilang hubungan jelas tapi gak jelas jalaninnya" |
"tapi lu egois kalo gitu namanya, lu gak mikirin perasaan Sasha, ya kalo dia mau terima cara kayak gitu, lu bilang konfliklu masalah persepsi sama sudut pandang, lu pernah gak bahas masalah ginian" | Haqi menimpali apa yang Radi bilang sambil memutar bagian atas cangkir kopinya
"iya juga sih ya, tapi dia juga gak pernah kasih kode atau apalah gitu biar pembicaraan kearah situ" | Radi menjawab sekenanya
"emang aja lu dongo Radiiiiiiiiiii" gemas Haqi menanggapi jawaban Radi. mendengar tanggapan Haqi yang seperti itu Radi terdiam dan membiarkan pikirannya pergi jauh meninggalkan hatinya yang mulai tidak baik. Radi mengulas kembali masa lalunya dimana dia tidak pernah mempertanyakan masalah hati Sasha, apa yang Sasha rasakan, dia hanya menikmati kenyamanan untuk dirinya sendiri, bahagia untuk dirinya sendiri. Melihat lamunan Radi, Haqi menepuk pundak sahabatnya itu sembari mengajak Radi untuk pulang, karena waktu sudah semakin larut.
"Radi maaf, semalem aku ketiduran, aku capek banget kemarin. Kamu masih di bandara?" hal pertama yang dilakukan Sasha saat bangun dari ketidurannya, dia merasa tidak enak terhadap Radi.
"eh iya Sha, gak masalah. Aku udah sampe rumah kok, semalem dijemput sama Haqi. Kamu emang dari mana kok bisa kecapean?" dengan cepat Radi membalas pesan dari Sasha
"hah Haqi?? dia kan lagi di Aceh. pura-pura kerja aja aku mah biar papa gak pusing mikirin anaknya, hahahah" Sasha membalasnya santai, sebagaimana Sasha-Sasha di dunia, apalagi Sasha yang anu.
"lah yang bener?? itu semalem Haqi kok yang jemput, terus kalo bukan Haqi, siapa dong?" Radi membalasnya dengan sedikit ketakutan
"hahahahaha, engga Radi, becanda kok becanda. Udah ya Radi aku mau siap-siap buat kerja"
"iya Sha, semangat ya. eh iya nanti sepulang kamu kerja kita bisa ketemu kan?" dibalasnya pesan Sasha dengan jantung yang anuan, *deg-degan maksudnya
"hah, ketemuan dimana?" Sasha lebih anuan membaca pesan ajakan dari Radi, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, mau apa Radi minta ketemu, 5 tahun pergi gak ada kabar, tiba-tiba ngajak ketemuan.
"diiiiiii, gak tau. kan aku udah lama gak di Jakarta, kamu yang harusnya lebih tau, tempat yang makanannya enak sama gak rame orang intinya" Radi membalasnya dengan semangat, makin yakin kalo Sasha mau menerima tawarannya
"kalo kamu udah paham isi surat dari aku, baru kita bisa ketemu!!!" Sasha membalasnya ketus
"iya santai aja, nanti kabarin aja kalo udah selesai kerja" Radi membalasnya dengan santai, di satu sisi dia bingung, kan waktu itu suratnya dia robek-robek sebelum selesai baca. gw juga penulisnya gak tau apaan isi suratnya, lah terus nanti Radi ngomong apaan pas ketemu???
"gak usah sok penting, kalo paham kenapa kamu pergi selama ini?? biar dibilang apa??" Sasha makin kesal membaca balasan Radi yang seakan tidak pernah terjadi diantara mereka
"aku minta maaf, sebaiknya hal ini kita bicarakan nanti saat kita bertemu. setiap orang pasti punya alasan dari setiap tindakannya, biar nanti aku jelaskan agar kamu mengerti Sha" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar mau menemuinya nanti.
"yaudah jelasin disini aja juga bisa kan, kita udah sama2 dewasa, masa aku gak ngerti maksud kamu walaupun itu dari pesan" masih saja Sasha berargumen makin gak jelas
"ya Allah Sasha, kenapa jadi gak jelas gini deh pagi-pagi, gini deh kita udah lima tahun gak ketemu, emang aku salah kalo mau ketemu kamu, lagian nanti juga pasti banyak hal lain yang kita bicarain, kamu juga pasti punya cerita kan" ngotot Radi agar dia bisa menemui Sasha nanti
"yaudah kalo gitu, tapi aku gak mau kalo nanti kita ngomongin yang bikin aku bad mood" Sasha menerima ajakan Radi dengan harapan tidak ada perbincangan yang dia inginkan.
"haaaahhh, finally, yaudah nanti aku jemput kamu aja sepulang ngajar, share location aja ntar" bujukan Radi menuai hasil positif,
Sekarang tinggal dia mempersiapkan apa yang harus dibicarakan. Radi mencoba mencari kembali surat yang dulu diberikan Sasha, setiap sudut rumahnya dia telusuri, tetes keringat Radi sudah berceceran disetiap ruang rumahnya. Radi mencoba mengingat kembali, dimanakah dia membuang surat itu, sampai lirikan matanya mengarah ke motor bebek tua miliknya, diambillah kunci box motor itu, "gotcha, alhamdulillah, ini dia suratnya" dengan teliti Radi menyatukan setiap sobekan-sobekan surat tersebut, membacanya dengan hati-hati, sampai pada kalimat yang waktu itu tidak dia baca, rona wajahnya berubah menjadi merah, entah apa yang ada di pikirannya, entah marah atau tersipu dengan kalimatnya, seketika dia mengucapkan kalimat "gak gitu Sasha engga gituuuuuu....... ah kamu~"
Haqi memutuskan untuk nongkrong di kedai teh, dengan nuansa lampu warna putih setibanya disana Radi langsung bertanya kepada Haqi "loh kok kita kemari, ngapain ngeteh? kan udah malem, ntar diabetes" |
"oh iyaya lupa gw, yaudah kita pindah aja, akhirnya mereka pindah ke kedai greentea low sugar. mereka memesan kopi dengan roti bakar.
"eh gimana, lu udah hapal berapa juzz?" Haqi memulai percakapan basa-basi,
"ya masih gini2 aja baru nambah 2 juzz, lu gimana?" |
"gak beda jauh samalu, gw baru nambah 2 juzz tambah se ain 2 ain" *ini request dari ibu gw, kalo mau nulis cerita harus ditambahin bumbu islami
"eh iya Qi, gimana kabar keluarga lu"? |
"alhamdulillah ayah sama ibu gw sehat" |
"bukan itu maksud gw, gw kira lu udah berkeluarga" |
"doain aja, bulan depan gw lamaran" |
"uwooooowwww, iya gw doain kok Qi" |
"lu sendiri gimana? masih Sasha?" |
"hahahaha, hahahah, hahahah. keparatlu nanyanya T.T" |
"udah gak usah sedih gitu, mecin emang bikin pusing. hahahaha" |
"taudah, udah 5 tahun padahal, masih aja kepikiran gw, dia apa kabar ya? tadi sih gw sms, mau minta tolong dijemput gw, eh dia gak bales, udah males kali dia sama gw ya? |
"ketiduran kali dia" |
"mana ada, kan gw minta tolong, bukan minta yang macem2" |
"makanya jangan pergi untuk melupakan, karena setiap yang pergi pasti butuh peta kepulangan" | "gak gitu Qi, gw pergi biar jadi lebih baik, biar gw bisa buktiin apa yang ditulis Sasha di suratnya, ya walaupun gw tau dia juga gak akan terima gw, udah kebaca dari pembukaan suratnya, cewek kan kalo nolak alus bertele2, lagu lama kaset kusut itumah" |
"lagian lu dulu kenapa sih gak buru2 jadian aja sama Sasha? gw rasa dia bete, kelamaan jalanin yang gak jelas kayak gitu" | Haqi bertanya mulai serius, dengan merendahkan nada suaranya, karena ini pertanyaan yang dari dulu ingin dia tanyakan.
Radi membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas panjang, tidak berbicara untuk beberapa detik, Radi baru berbicara setelah meminum sedikit kopinya
"gini Haqi, mendingan mana jalanin hubungan yang gak jelas tapi jelas jalaninnya apa jalanin hubungan yang jelas tapi gak jelas jalaninnya? emang gw kayak gitu gak jelas nama hubungannya, tapi kita gak pernah namanya konflik2 gak jelas, berantem2an lah masalah sepele, sekalinya ada konflik, palingan masalah pola pikir dan sudut pandang,semisal jalan ato ketemuan ya yang ada seneng2 aja, jelas kan gw jalaninnya, lah sekarang lu liat yang pacaran, emang jelas nama hubungan mereka, tapi konflik mereka aneh menurut gw, cemburu2anlah, mau maen aja kadang dilarang, itu yang gw bilang hubungan jelas tapi gak jelas jalaninnya" |
"tapi lu egois kalo gitu namanya, lu gak mikirin perasaan Sasha, ya kalo dia mau terima cara kayak gitu, lu bilang konfliklu masalah persepsi sama sudut pandang, lu pernah gak bahas masalah ginian" | Haqi menimpali apa yang Radi bilang sambil memutar bagian atas cangkir kopinya
"iya juga sih ya, tapi dia juga gak pernah kasih kode atau apalah gitu biar pembicaraan kearah situ" | Radi menjawab sekenanya
"emang aja lu dongo Radiiiiiiiiiii" gemas Haqi menanggapi jawaban Radi. mendengar tanggapan Haqi yang seperti itu Radi terdiam dan membiarkan pikirannya pergi jauh meninggalkan hatinya yang mulai tidak baik. Radi mengulas kembali masa lalunya dimana dia tidak pernah mempertanyakan masalah hati Sasha, apa yang Sasha rasakan, dia hanya menikmati kenyamanan untuk dirinya sendiri, bahagia untuk dirinya sendiri. Melihat lamunan Radi, Haqi menepuk pundak sahabatnya itu sembari mengajak Radi untuk pulang, karena waktu sudah semakin larut.
"Radi maaf, semalem aku ketiduran, aku capek banget kemarin. Kamu masih di bandara?" hal pertama yang dilakukan Sasha saat bangun dari ketidurannya, dia merasa tidak enak terhadap Radi.
"eh iya Sha, gak masalah. Aku udah sampe rumah kok, semalem dijemput sama Haqi. Kamu emang dari mana kok bisa kecapean?" dengan cepat Radi membalas pesan dari Sasha
"hah Haqi?? dia kan lagi di Aceh. pura-pura kerja aja aku mah biar papa gak pusing mikirin anaknya, hahahah" Sasha membalasnya santai, sebagaimana Sasha-Sasha di dunia, apalagi Sasha yang anu.
"lah yang bener?? itu semalem Haqi kok yang jemput, terus kalo bukan Haqi, siapa dong?" Radi membalasnya dengan sedikit ketakutan
"hahahahaha, engga Radi, becanda kok becanda. Udah ya Radi aku mau siap-siap buat kerja"
"iya Sha, semangat ya. eh iya nanti sepulang kamu kerja kita bisa ketemu kan?" dibalasnya pesan Sasha dengan jantung yang anuan, *deg-degan maksudnya
"hah, ketemuan dimana?" Sasha lebih anuan membaca pesan ajakan dari Radi, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, mau apa Radi minta ketemu, 5 tahun pergi gak ada kabar, tiba-tiba ngajak ketemuan.
"diiiiiii, gak tau. kan aku udah lama gak di Jakarta, kamu yang harusnya lebih tau, tempat yang makanannya enak sama gak rame orang intinya" Radi membalasnya dengan semangat, makin yakin kalo Sasha mau menerima tawarannya
"kalo kamu udah paham isi surat dari aku, baru kita bisa ketemu!!!" Sasha membalasnya ketus
"iya santai aja, nanti kabarin aja kalo udah selesai kerja" Radi membalasnya dengan santai, di satu sisi dia bingung, kan waktu itu suratnya dia robek-robek sebelum selesai baca. gw juga penulisnya gak tau apaan isi suratnya, lah terus nanti Radi ngomong apaan pas ketemu???
"gak usah sok penting, kalo paham kenapa kamu pergi selama ini?? biar dibilang apa??" Sasha makin kesal membaca balasan Radi yang seakan tidak pernah terjadi diantara mereka
"aku minta maaf, sebaiknya hal ini kita bicarakan nanti saat kita bertemu. setiap orang pasti punya alasan dari setiap tindakannya, biar nanti aku jelaskan agar kamu mengerti Sha" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar mau menemuinya nanti.
"yaudah jelasin disini aja juga bisa kan, kita udah sama2 dewasa, masa aku gak ngerti maksud kamu walaupun itu dari pesan" masih saja Sasha berargumen makin gak jelas
"ya Allah Sasha, kenapa jadi gak jelas gini deh pagi-pagi, gini deh kita udah lima tahun gak ketemu, emang aku salah kalo mau ketemu kamu, lagian nanti juga pasti banyak hal lain yang kita bicarain, kamu juga pasti punya cerita kan" ngotot Radi agar dia bisa menemui Sasha nanti
"yaudah kalo gitu, tapi aku gak mau kalo nanti kita ngomongin yang bikin aku bad mood" Sasha menerima ajakan Radi dengan harapan tidak ada perbincangan yang dia inginkan.
"haaaahhh, finally, yaudah nanti aku jemput kamu aja sepulang ngajar, share location aja ntar" bujukan Radi menuai hasil positif,
Sekarang tinggal dia mempersiapkan apa yang harus dibicarakan. Radi mencoba mencari kembali surat yang dulu diberikan Sasha, setiap sudut rumahnya dia telusuri, tetes keringat Radi sudah berceceran disetiap ruang rumahnya. Radi mencoba mengingat kembali, dimanakah dia membuang surat itu, sampai lirikan matanya mengarah ke motor bebek tua miliknya, diambillah kunci box motor itu, "gotcha, alhamdulillah, ini dia suratnya" dengan teliti Radi menyatukan setiap sobekan-sobekan surat tersebut, membacanya dengan hati-hati, sampai pada kalimat yang waktu itu tidak dia baca, rona wajahnya berubah menjadi merah, entah apa yang ada di pikirannya, entah marah atau tersipu dengan kalimatnya, seketika dia mengucapkan kalimat "gak gitu Sasha engga gituuuuuu....... ah kamu~"
Rabu, 10 Februari 2016
Peta Kekuatan Jomblo pada Konteks Valentine
Assalamualaykum
Assalamualaykum
Deadpool udah keluar, tapi gw gak peduli. LGBT
makin rame, sama gw juga gak peduli, gw anggepnya pengalihan isu, tapi gw gak
tau isu apaan yang dialihin, anjas sok banget netijen lu.
Disini gw mau bahas jomblo dan valentine, kenapa gw mau bahas
tentang ini, karena gw jomblo dan gw ada di tengah pembodohan hakiki yang
menahun, yap kelakuan ikut2an bocah pada baru mimpi basah, ikut2 ngerayain
valentine. Untuk kalian para jomblo sepatutnya kalian harus berbangga karena
kalian merupakan bagian penting dalam pengedukasi pembodohan ini. Segala Puji
Bagi Allah, jomblo masih kuat dalam peta budaya ikut2an valentine, karena apa?
Didukung budaya negara Indonesia yang memiliki adat istiadat ketimuran, secara
hierarki kita para jomblo sudah terpatri tekad yang kuat untuk bersilat lidah,
membuat pengecualian diatas pengecualian tentang pasangan.
Ditinjau dari peta kekuatannya, memang tidak
bisa kita pungkiri ada saja kelemahan pada beberapa sisi, menurut pengamatan
gw, sebagai orang ketiga serba soktau, sisi terlemah dari barisan jomblo
teranuuuu, berada pada barisan depan, barisan yang banyak diiisi oleh bocah2
baru mimpi basah, yang mudah sekali melintasi perbatasan secara terang2an dan
membaiat diri mereka sendiri sebagai pendukung barisan pembeli cokelat untuk merayakan valentine. Barisan
ini sangat unik karena, hilang satu muncul satu, oleh karena hal itu barisan
ini sulit didata untuk pelatihan dan pengedukasian, bukan barisan lain terlalu naif dan apatis pada masalah ini, tapi ya gitu deh, yaelah lu tau sendiri kelakuan bocah pada baru mimpi basah gimana. Selanjutnya barisan tengah,
barisan ini tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, namun barisan ini
memiliki psikologis terbaik, karena mereka tidak terlalu reaktif, mereka lebih
sering bertindak sendiri, pada suatu waktu mereka bisa saja menghasut para pihak oposisi, menghasut untuk masuk barisan jomblo, atau bahkan yang lebih parah meletakan musuh pada kehampaan dimensi
budaya asmara, karena pemikiran2 dan hasutan yang disampaikan. Barisan tengah
ini bisa dikatan penyambung mahzab barisan depan dan barisan belakang. Barisan
ini diisi oleh mereka yang jomblo karena banyak hal yang lebih penting selain
berpacaran. Oke sekarang kita masuk ke barisan belakang, barisan belakang bisa
dibilang barisan terkuat pada peta ini. Mereka dikatakan kuat karena barisan
ini lebih mengandalkan literatur yang mereka dapat dari pembelajaran mereka,
mereka belajar dimana gw juga gak tau, mereka sangat kolot, ngotot, dan teguh
pada pendirian dan literaturnya. Mereka tidak kenal strategi win win solution,
mereka benar2 barisan bergenderang berpalu, berkepala batu, mereka akan terus
memukul mundur musuh sekalipun mereka dibilang bodoh, kolot atau kolot, bodoh.
Barisan ini mayoritas diisi oleh mereka yang jomblo dari lahir karena sudah
bersumpah, seperti "jomblo sampe halal"
Senin, 15 September 2014
karena MaBa bukan lagi Mandi Basah
Untuk postingan kali ini gw mau ngasih tau bagaimana cara
kita menghadapi perkuliahan yang belum tentu baik dan benar alaaaahhhh
somay lu yan, lulus aja belom. Oke dimulai dari kenapa gw berani nulis
tentang beginian, emang sih gw belom lulus dari kuliah tapi seenggaknya ya gw
udah mencapai semester 7 dengan reward ciuman dan senyuman dari orang tua gw,
yang gw anggap itu sebagai rasa puas dari orang tua gw. sama satu lagi ada yang ask ke askefem gw, kalo dia nanyain "kok gak apdet blog lagi" kira2 gitu pertanyaannya. makasih anon buat pertanyaannya, langsung gw jawab aja nih di blog. Oke langsung mulai aja
1 1. Untuk point pertama ini ya lebih mengarah pada
maba2 lucu. Pertama lu masuk kuliah, jangan pernah lu anggep sesuatu hal yang
baru, ntar jadinya lu kaku, terus malu buat nanya, terus jadi sok tau dan terus
lu gampang banget diculik nantinya. “malu bertanya jangan nanya, sesat di jalan
malu-maluin” begitulah kiranya kata pepatah kontemporer Ahmad Faisal Kamal
2 2. Untuk point yang kedua ini adalah pesan dari
abang-abangan gua di tongkrongan semasa gw masih SMA, kata mereka “semester 1
sampe dengan semester 4 itu lu harus dapet ip minimal 3.00” ini bener banget
ternyata. Gw mengikuti apa yang dibilang abang-abangan gw waktu itu, dan
buktinya sangat gw rasakan baru-baru ini (semester 7) kuliah gw jadi semakin
santai karena mata kuliah yang gw ambil jadi semakin dikit, karena apa? Karena
gw emang mau ambil dikit ajah.
3 3. Di poin ini gw mau menjelaskan tentang ilmu,
ahahahaha. Banyak banget ilmu yang bisa kalian dapat ketika masuk perkuliahan,
banyak paham yang akan kalian pelajari nanti. Eiiittss tapi hati-hati, jangan
sampai kalian memahami paham yang salah, maksudnya disini adalah jangan sampai
kalian mengikuti ajaran yang melanggar Pancasila dan UUD 1945.
4 4. Selanjutnya adalah, teman. Yeeeeeyyyy, di
perkuliahan itu menurut gw sih gampang banget cara mencari teman yang tepat
ataupun tidak tepat tapi ditepat-tepatin, kenapa gw bilang gitu, karena saat
kalian kuliah itu kalian memakai pakaian yang tidak seperti anak SMA sederajat,
jadi kalian bisa melihat sendiri, but
don’t judge the book from the cover carilah teman sebanyak-banyaknya. janganlah pilih2 temen, karena Allah menciptakan manusia juga gak pilih2 keleuzzzz, yang penting akhlak sama aqidahlu baik, so karena itu dasar dari pergaulan yang baik dan benar menurut gw.
5 5. Masuk poin kelima nih, jeng jeng jeng *drumroll*
yap pacar. Ish apaan sih pacar? skip aja kali yak
6 6. Ini juga point penting, organisasi, organisasi
di kampus itu banyak bener adanya, ada opmawa dan ormawa, opmawa itu organisasi
pemerintahan mahasiswa, ya kayak BEM, HIMA, HMJ, BPM, MTM kemudian ada ormawa
itu organisasi mahasiswa, kayak semacem ekskull lah kalo disekolahan.
7 7. Ya Allah semoga yang menulis postingan blog ini
mendapatkan ridhamu agar lulus di waktu yang tepat, mendapatkan berkahmu,
diterangkan hati dan pikirannya saat menghadapi skripsi, diringankan langkah
kakinya untuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing, digemulaikan jemarinya
saat mengetik skripsi, difasihkan lisannya saat mempresentasikan skripsinya.
Aamiin

























