Selasa, 12 Agustus 2025

PENGKLASIFIKASIAN DATA DAN PEMBUATAN KONTEN

 PENGKLASIFIKASIAN DATA DAN PEMBUATAN KONTEN MENGGUNAKAN PICTOBLOX







Kamis, 03 Oktober 2024

tutorial winstreak 500 x di mobile legend

 


gak mungkin anjay.....



Senin, 23 September 2024

Membuat Kue Bika Ambon

 


Berikut adalah langkah-langkah untuk membuat kue Bika Ambon:

Bahan-bahan:

  • Bahan A:

    • 500 ml santan
    • 200 g gula pasir
    • 1 sdt garam
    • 3 lembar daun pandan, simpulkan
  • Bahan B:

    • 250 g tepung sagu
    • 1 sdt ragi instan
    • 4 butir telur
    • 1 sdt air jeruk nipis

Langkah-langkah:

  1. Membuat Santan:

    • Panaskan santan dengan daun pandan, gula, dan garam hingga gula larut. Jangan sampai mendidih. Angkat dan biarkan dingin.
  2. Mencampurkan Bahan Kering:

    • Dalam wadah terpisah, campurkan tepung sagu dan ragi instan. Aduk rata.
  3. Membuat Adonan:

    • Kocok telur dengan air jeruk nipis hingga mengembang. Tambahkan campuran tepung sagu sedikit-sedikit sambil terus diaduk.
    • Setelah itu, tuangkan santan yang sudah dingin ke dalam adonan dan aduk hingga rata.
  4. Fermentasi:

    • Tutup adonan dengan kain bersih dan biarkan selama 2-3 jam di tempat hangat agar adonan berfermentasi dan mengembang.
  5. Memanggang:

    • Panaskan kukusan. Siapkan loyang yang telah diolesi minyak atau dialasi daun pisang.
    • Tuang adonan ke dalam loyang dan kukus selama 30-40 menit hingga matang. Pastikan untuk tidak membuka tutup kukusan selama proses pengukusan.
  6. Dinginkan:

    • Setelah matang, angkat dan biarkan kue dingin sebelum dipotong.
  7. Sajikan:

    • Potong kue Bika Ambon sesuai selera dan sajikan. Nikmati dengan kopi atau teh!

Selamat mencoba membuat Bika Ambon! Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya.

Selasa, 30 Oktober 2018

Karena Kita Bisa Saling Segalanya

Peran Kita Untuk Penyandang Disabilitas

Dengan kita mengetahui cara berintraksi dengan penyandang disabilitas, maka disabilitas bisa dipahami sebagai keragaman dalam masyarakat. Kekakuan, rasa takut, bahkan sikap berlebih terhadap orang dengan disabilitas dapat dihindari. Dengan begitu, kita bisa menjadi bagian dalam mendorong terciptanya Indonesia yang ramah disabilitas. Banyak hal terjadi karena sudah biasa. Kejadian yang tidak biasa seringnya menimbulkan kecanggungan. Sebagai contoh, masyarakat tidak terbiasa berinteraksi dengan orang berdisabilitas karena lebih jarang bertemu dengan orang berdisabilitas di ruang publik. Sikap yang terlihat malah kikuk, “takut salah”, atau bahkan cenderung berlebihan setiap kali saling berinteraksi.
Bukan hanya itu, lebih jarangnya kehadiran orang dengan disabilitas di ruang publik sebenarnya merupakan penanda bahwa terjadi proses diskriminasi dan pembiaran selama bertahun-tahun. Orang dengan disabilitas “tidak dibiarkan” berada di ruang publik secara mandiri, termasuk dan bebas berinteraksi dengan lebih banyak orang. Orang dengan disabilitas termarjinalkan dari masyarakat umum.
Setelah disahkannya UU Penyandang Disabilitas, negara—yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah—menjamin kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat dengan disabilitas untuk mendapatkan lebih banyak akses dalam berinteraksi dengan lingkungan , ksekitarnya. UU Penyandang Disabilitas juga menjamin aksesibilitas untuk orang dengan disabilitas mendapatkan hak-hak dasarnya, sama dengan semua orang. Keberadaan UU Penyandang Disabilitas akan mendorong kehadiran para disabilitas di ruang-ruang publik; bukan hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek.
Berkaca pada situasi tersebut, perlu ada kesadaran yang lebih mendalam dari kita semua bahwa orang dengan disabilitas juga merupakan warga negara yang berhak hidup secara mandiri dan bebas. Mereka berhak menempati ruang-ruang publik dan memanfaatkan segala fasilitas umum tanpa kendala. Dengan begitu, kita semua perlu memahami bagaimana berinteraksi langsung dengan para disabilitas.
Bergerak Bersama disabilitas
Saat ini aktivitas kita sangat didukung dengan adanya fasilitas dan kemampuan, tapi kegiatan yang mudah kita lakukan belum tentu mudah untuk dilakukan bagi penyandang disabilitas. Karena tidak semua fasilitas cocok untuk penyandang disabilitas. Bahkan penyandang disabilitas sering tidak mendapatkan dasilitas bahkan mereka juga sering diperlakukan berbeda. Semua itu terjadi karena kebanyakan dari kita tidak tahu cara berinteraksi dendan penyandang disabilitas. Biasanya kita sering bersikap acuh terhadap penderita disabilitas tapi lebih sering kita keliru bersikap terhadap mereka, sekalipun awalnya maksud kita baik.
Hal yang perlu kita lakukan adalah perlakukanlah penyandang disabilitas seperti kita mau diperlakukan orang lain. Ibaratkan jika sedang mati lampu kita bahkan tidak bisa melihat apa-apa, kemudian secara tiba-tiba ada orang yg datang menepuk pundak kita, apa yang terjadi pada kita? Sudah pasti merasa terkejut. Begitulah respon penderita tunanetra jika ada seseorang yang ingin membantunya tapi tidak bertanya terlebih dulu. Maka dari itu cara membantu penderita tunanetra dengan cara menyentuh punggung tangan kemudian bertanya dulu terlebih dahulu bukan langsung memegangnya apalagi sampai menyeretnya , setelah itu biarkan penderita tuanetra yang memegang tangan kita untuk berjalan.
Setiap haripun kita melihat perbedaan, dan kebanyakan mereka yg berbeda lebih menarik perhatian. Jangan sampai perbedaan yang terlalau menonjol membuat kita kesal. Sebagai contoh ketika ketika mendengar penderita tunarungu berbicara dengan orang normal maka orang normal ini pun akan bersuara dengan sangat keras. Saat mendengar itu seharusnya kita tidak perlu kesal karena kitapun pernah berteriak keras-keras saat nonton konser atau menyanyi sendiri saat mendegarkan music. Kalua ingin menyapaorang yang sulit mendengar atau penderita tunarungu, kita bisa menepuk pundaknya lalu berbicara seperti biasa tidak terlalau cepat dan juga tidk terlalu lambat atau jika bisa ditambah dengan Bahasa isyarat. Karena penderita tunarungu bisa membaca gerak mulut dan Bahasa isyarat lebih baik daripada kita.
Seringkali kita terlalu cuek sehingga tidak bisa membedakan apakah orang itu berbeda atau tidak. Tapi apakah perbedaan itu begitu penting dalam menentukan sikap kita ? apalagi lagi sampai membuat kita melihat dari ujung rambt hingga ujung kaki. Apakah kita sendiri suka dilihat seperti itu ? seharusnya tidak peduli mereka penyandang disabilitas atau bukan, kepada semua orang sudah sepantasnya kita berlaku sopan. Penampilan orang dengan disabilitas mental sering kali tidak berbeda jauh dengan kita. Mereka juga punya indentitas yaitu KTP jadi mereka juga memiliki hak sama seperti orang normal. Mereka juga berhak untuk ikut pemilu. Yang mereka butuhkan adalah interaksi social agar mereka juga dapat memahami kondisi sekitar dan dapat bersosialisasi. Kalau bingung kita harus bersikap seperti apa terhadap disabilitas mental  kita hanya perlu tersenyum ramah
Sementara itu kita tahu diluar sana banyak fasilitas di Indonesia yang belum ramah untuk semua orang. Loket berkaca gelaptidak membuat kita nyaman berkomunikasi, orang dengan gangguan pendengaran jadi tidak bisa membaca gerak bibir. Trotoar rusak sangat berbahaya bagi pejalan kaki, apalagi bagi yang berkursi roda dan tunanetra. Hal yang perlu kita lakukan adalah mendorong perbaikan fasilitas yg ada di Indonesia agar penyandang disabilitas juga bisa menikmati fasilitas yang ada.
Dengan adanya undang-undang disabilitas No.8 tahun 2016 berlaku sejak April 2016. Memastikan agar perbaikan fasilitas umum turut memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas. Peran kita sangan dibutuhkan dalam melaksanakan UU No.8 Tahun 2016 tentang Disabilitas. Ada 25 sektor yang dibahas diantaranya transportasi, kesehatan, tenaga kerja,komunikasi, dan fasilitas bangunan. Karena tanpa fasilitas kita sulit beraktifitas, dan karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda maka semestinya fasilitas umum cocok untuk semua orang termasuk untuk penyandang disabilitas.
Maka dari bagi kita yang bukan penyandang disabilitas sudah sepantasnya kita bergerak untuk penyandang disabilitas agar mereka bia mendapatkan hak yang sama seperti kita. Janagan lagi merendahkan penyandang disabilitas atau bahkan tidak memerdulikan penyandang disabilitas.

Fahira Salsabilah

Minggu, 25 Februari 2018

Kenapa Harus Twice


        berawal dari setiap gw nongkrong temen gw Abud selalu bersenandung "i'm like tity just like titi" itu mulu yang dia senandungin, padahal nih bocah pendengar musik rock 90'an, anjir ini orang nyanyi jorok bet "lu nyanyi jorok bbanget bud najis dah, bocah cabul" yang gw denger dan ada di pikiran gw tuh tity artinya toked njir, astaghfirullah pikiran gw keruh bet. terus dia ngebantah dong, "gak cabul anjir ti ti yan, 'T.T' emot icon nangis, elu yak yang cabul" | "lagu siapa emang itu?" | "ada girlband korea Twice namanya" denger girlband korea pikiran gw langsung "anjir pasti videonya seksi ya bud?" macem sistar, bhusetdah bora bay lu tau sendiri, sehari juga gak abis itu. "engga yan lucu videonya" langsung gw buka youtube saat itu juga, gw nonton ampe goblog, imej gw tentang girlband korea bubar langsung seakan iman islam gw  gak lepas kayak lu lagi minum khamar, iman lu langsung lepas saat itu (cek hadis gw lupa hadis yang mana, maaf) gw masih insecure tapinya gak bisa secepet itu juga terima kalo girlband korea itu identik sama seksi dan menggairahkan. gw cek video lainnya, bam bam bam, yang rada menjurus emang cuma satu itu video  "ooh ah ooh ah"
udah cukuup kayaknya pengantarnya, segitu aje, gak kayak pengantar skirpsi emang yang bisa satu lembar A4 margin 4-3-3. sekarang masuk ke pokok bahsan. kenapa harus twice saat itu juga.

1. musiknya enak-enak
gw bisa klaim dengan sadar kalo gw pecinta musik, apa aja gw denger, selama musiknya enak, ampe lagu dangdut kerawang-cirebon juga bisa masuk ke telinga gw. musik twice itu iramanya enak semua, semuanya. anjir cem fan garis keras opini gw, mungkin ada beberapa yang pertama kali gw denger kurang asique menurut gw, cuma ketika gw denger ulang-ulang, yailah ini musik enak bet, ada satu lagu twice yang pertama gw denger, anjir ini lagu apaan, judulnya "likey" cuma gegara keputer otomatis kalo gw dengerin lagu twice, lama-lama lagunya enak, cinta datang karena terbiasa, anjay. ditambah sekarang likey ganti main vocal, makin enak aja di denger, dahyun yang main vocal, yang ngerap si momo, badass emang suara dahyun di lagu ini. nah lagu kesukaan gw ya "T.T"
2. video klipnya gak seronok & gak ada cowoknya
lagu tanpa video klip rasanya kayak aku tanpa kamu, bisa sih jalanin hari, cuma jadi sekedar aja gitu. video klip Twice itu lucuk-lucuk, enak buat ditonton terus-terusan, konsepnya unik-unik, udah gitu full color sampe sejauh ini, full color campur monochrome juga ada "cheer up". pakean sama gerakan narinya juga lucuk, gak adadah unsur seronok bahkan di ooh ah juga yaelah standaran dah, jadi kalo gw lagi nonton di youtube terus ibu gw liat juga masih santai gw, coba kalo gw nonton ma boy, berantakan karir gw saat itu juga. gak ada cowoknya, ini nih ini, yang paling gw apresiasi, mereka tau penontonya banyak yang tuna asmara, makanya gak mau dia bikiin panas penonton, sekalinya ada itu cowok mukenya ditutupin properti kayak di lagu "cheer up" sama "signal". terus kalo videoklip yang paling gw suka "one more time" jagoan gw lagi cakep-cakepnya disitu

3. koreografinya lucuk
gak kayak girlband-girlband korea yang gw tau, twice punya koreografi yang bisa bikin gw ketawa disetiap videoklipnya, iya gw ketawa beneran, bisa anjir kepikiran bikin gerakan kayak gitu, yahlu kalo gak ketawa mah ada yang gak beres sama kukulu, iye otaklu di kuku soalnya. ada yang bilang "twice mah sekedar gerakannya, coba lu tonton girlfriend" gw coba tuh tonton, emang sih lebih ada-ada aja gerakannya, cuma gak lucuk, lebih ke arah keren.

4. jagoan gw
sejatinya laki-laki harus punya jagoan, kayaklu nonton power ranger aje, lu pasti mulih jagoan, pertama banget gw liat twice gw secara polos tanpa pertimbangan matang jagoan gw saat itu momo, soalnya pas video klip "T.T" dia di tengah mulu terus pas yang gerakan dia nonjok-nonjok pipi itu lucu bet parah, udah gitu momo mukanya gak kayak orang korea, jadi gw bisa langusng tau itu jagoan gw. soalnya gw kalo nonton apa-apa yang berbau korea selatan yang gw liat muka ceweknya sama semua anjir, ini siap itu siapa seakan sama, makanya gw pilih momo. seiring berjalannya waktu, mata gw disadarkan oleh pipinya dahyun sama matanya, anjir ini orang oplas dimane, pen gw kasih kartika sari dokternya, "makasih dok, kerjaanlu bagus". FYI aje nih Dahyun itu udah tipe gw bet, badannya kecil mukanya tembem, matanya galak, gw kalo diomelin sambil diplototin dia, nurut pasti gw "bian kamu jangan kerja, tiduran aja di kamar!" gak pake ngelawan gw pasti langsung nurut. udah gitu lucuk lagi bocahnya, kelakuannya ada-ada aja. sempurna dah dia, semuanya ada.



Honorer Relationship #3


Mereka berdua sampai di suatu apartemen, setelah  memarkirkan mobilnya Nadi membukakan pintu untuk Artri kemudian menggandengnya menuju lobi, genggamannya kali ini tidak sekasar saat sebelumnya, entah kenapa Artri tidak melawan sama sekali untuk kali ini, setibanya di lobi salah satu satpam menegur Nadi “pak guru mau ngapain bawa-bawa perempuan bukan muhrim ke apartemen? Mau main gila ya pak” candaan dari satpam di balas dingin oleh tatapan Nadi. Artri hanya bisa menunduk sambil tetap langkahnya mengikuti Nadi menuju lift. Keluar dari lift mereka menuju suatu kamar tapi Nadi tidak membuka kamar tersebut, dia mengetuk kamar tersebut
“Assalamualaykum, mba Qifah, ini saya Nadi”
“oh iya mas Nad, sebentar” sahut wanita yang ada di dalam ruangan tersebut, selang beberapa detik muncullah wanita berdaster panjang dengan rambut kuncir kuda, sambil menggendong anaknya dengan kain gendong
“maaf mba Qifah ini saya mau ngerepotin lagi” perkataan Nadi yang lembut sangat berbeda sekali saat dia berbicara dengan Artri
“oh iya masalah waktu itu ya” Mba Qifah seperti sudah sangat paham dengan apa yang diminta Nadi. hal tersebut membuat Artri semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang telah terjadi antara dia sampai ada orang lain lagi
“iya mba, biar Raka saya yang gendong deh” Nadi menawarkan jasa jaga bayi sambil tersenyum sopan.
“udah ndak usah mas, yaudah tolong buka aja kamarnya” Mba Qifah menolak tawaran Nadi dan ingin langsung membantu Nadi secara sukarela
“Artri sekarang kamu ikut sama Mba Qifah ya, jangan bicara keras-keras karena ada bayi” pesan Nadi sebelum mereka memasuki kamar
“gak usah dibilangin gw juga ngerti!” Artri membalasnya dengan bisikan ketus di telinga Nadi
“yaudah Mba Qifah saya tinggal ke bawah dulu ya cari makan” Nadi tidak memberikan respon apapun kepada Artri tapi malah berbicara kepada Mba Qifah
“eh sebentar pak guru yang terhormat, lu bilang mau selesain urusan kita berdua tapi kenapa malah kayak gini sih!?” bentak Artri saat Nadi ingin meninggalkan mereka berdua, saat itu juga bayi Raka bergerak kaget lalu menangis. Artri lalu berbalik badan segera mengusap kepala Raka sambil tangan satunya menepuk-nepuk paha bayi tersebut, melihat hal tersebut mba Qifah tersenyum manis, tapi tidak dengan Nadian, ada ekspresi lain yang hadir di hatinya.
“aduh maaf ya Raka, sh sh sh sh, udah-udah bubu lagi ya. Mba Qiffah maaf ya” dengan perasaan tidak enak Artri meminta maaf
“udah-udah ndak apa-apa mba Artri, yasudah tutup pintunya kita masuk” balas Mba Qifah santai. Saat Artri menutup pintu, keberadaan Nadian sudah tidak ada di di koridor, dia seakan menghilang menggunakan jurus sintensin no jutsu
“ini apartemen mba juga ya?” tanya Artri saat baru saja duduk di sofa bersebelahan dengan Mba Qifah
“bukan ini punyanya mas Nad, seminggu yang lalu kamu tidur di sini” sambil terus menepuk-nepuk paha Raka Mba Qifah menjawab pertanyaan Artri dengan santai. Santainya Mba Qifah tidak sama dengan perasaan yang dirasa Artri, Artri malah semakin kesal
“hah!?” kagetnya Artri membuat tangannya berhenti mengusap kepala Raka untuk beberapa detik
“yasudah saya langsung cerita saja ya, malam itu Nadian ngetuk-ngetuk kamar saya minta tolong ke suami saya, mas Nad gendong-gendong kamu ngos-ngosan, melihat hal seperti itu suami saya membangunkan saya, karena ini bukan urusan laki-laki lagi, saya langsung membantunya, dia membaringkan kamu di kasur, tapi kamu tidak langsung tidur nyenyak, kamu muntah-muntah di kasur, kamu bisa cek ke kamar mas Nadian, bekas muntah kamu belum dibersihkan sama sekali. Setelah itu saya diminta untuk membersihkan diri kamu, ya saya mandikan kamu, hehehe, ndak papa toh? Kan kita sama-sama perempuan, lalu kamu pakai kaos punya mas Nad sama celananya juga, tapi gak celana dalem loh ya, baju kotormu dicuci sama mas Nad, semalaman sampai siang kamu tidur di sofa ini, saya disuruh nemenin Mba, mas Nad tidur di apartemen saya bareng suami saya, ndak tidur juga sih, mereka malah main game bareng, lalu sekitar jam 8 pagi saya keluar untuk siapin sarapan buat suami saya, mas Nad yang gantian jagain kamu” Mba Qifah menceritakan secara singkat kronologis malam itu
“terus mba Qifah gak kesini lagi? Mba Qifah gak tau dong Nadian ngapain pas berduaan sama saya?” pertanyaan cepat langsung dilontarkan oleh Artri, karena selama Mba Qifah cerita, Artri belum menemukan kesalahan Nadian
“Mba Artri kalo mas Nad mau, sudah dari semalam dilakukan. Lagian ndak lama temen kamu datang jemput kamu” jawab santai Mba Qifah sambil tersenyum lembut
“terus Nadian kemana?” Artri kembali bertanya karena belum menemukan apa yang dia sangkakan selama ini
“sarapan bareng saya sama suami sama Raka juga, saya tanyain kamu katanya sudah pergi sama temenmu” kalimat tersebut sekaligus menjadi akhri cerita yang tidak disangka Artri sama sekali. Artri berjalan menuju kamar Nadian, melihat kasur Nadian yang penuh noda muntah, bau kamarnya tidak sedap, Artri menutup kamarnya lalu pamit buru-buru dengan perasaan malu dan menyesal. Dia bertekat untuk tidak bertemu Nadian lagi karena sangat malu, segera ia memberhentikan taksi untuk menuju kantornya.
Setibanya di kantor, Artri langsung membanting badannya di kursi kerjanya, mukanya sangat kusut, peluh di keningnya tidak mengganggunya sama sekali, beberapa helai rambutnya mengkilap karena keringat.
“ebuset kenek patas manalu, bilang-bilanglah biar gw bisa naek patas gratis” celetuk sorang perempuan dari samping bilik kerjannya
“apaan sihlu, mana ada kenek patas seksi gini” balas Artri sambil tertawa heran
“lah itu apaan di pundaklu, kalo bukan sapu tangan kenek patas” jawab perempuan tersebut sambil menunjuk apa yang ada di pundak Artri
            “ah kenapa sih!” teriak Artri sampai membuat yang lain melirik kearahnya. Belum sempat iya minta maaf, dia dikagetkan oleh pesan masuk yang ada di handphonenya.


Sabtu, 13 Januari 2018

Honorer Relationship #2

"apa-apaan sihlu?? sakit tangan gw, pantesan tangan adek gw sampe merah gitu, elu jadi guru tapi kelakuanlu jauh dari kata teladan ya" ucap wanita tersebut sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan lantaran menahan sakit di tangannya. mendengar kalimat tersebut Nada semakin menjadi, genggaman tangannya semakin di eratkan, langkahnya menjadi semakin cepat menyeret wanita tersebut. Setibanya di ujung koridor, Nada langsung menyudutkan wanita tersebut di tembok, menekan tangan wanita terbsebut ke tembok di atas kepala, tangan kanan Nadi menutup mulut wanita tersebut
"kamu lebih menggairahkan kalo lagi keringetan sama ngos-ngosan gini ya, beda pas kalo lagi mabok" dengan santainya Nadi mengucapkan kalimatnya di telinga wanita tersebut" tempat tersebut adalah tempat yang jarang disentuh oleh para guru atau penjaga sekolah, hanya anak-anak yang cabut dari jam pelajaran menjadikan tempat tersebut sebagai safe zone, berada di paling ujung dan hanya memiliki satu pandangan yaitu ke bagian belakang komplek elit
"mau ngapain lu, jangan macem-macem ini sekolahan" kalimat pertama yang muncul sesaat Nadi melepaskan sekapannya di mulut wanita tersebut, sambil berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya, wanita tersebut terlihat sangat ketakutan. Melihat pemandangan tersebut, Nadi menghentikan semua tindakannya lalu mundur sebanyak dua langkah disusul dengan uluran tangannya untuk berkenalan
"saya Nadian, bisa panggil saya Nadi" sambil tersenyum Nadi mengulurkan tangan seperti dia tidak pernah melakukan apa-apa sebelumnya. melihat tingkah Nadi yang tiba-tiba berubah 180' wanita tersebut semakin bingung sampai tidak berani menatap wajah Nai. Hampir sekitar satu menit mereka tidak merubah gerakan, sampai ketika Nadi mengamil langkah untuk meninggalkan wanita tersebut
"Artri, nama gw Artri" Artri sendiri bingung kenapa dia malah memperkenalkan diri, padahal Nadi sudah beranjak meninggalkannya. Nadi menghentikan langkahnya
"di deket sini ada ketupat padang enak, saya mau makan, kamu harus ikut anggep aja ini langkah awal saya mempertanggungjawabkan apa yang telah saya perbuat ke kamu sebelumnya" tawaran Nadi yang tanpa memperdulikan sesuatu apa yang telah terjadi barusan membuat Artri semakin bertanya, apakah benar dia ini seorang guru, tadi seakan Nadi sangat bernafsu untuk menerkam Artri sejadi-jadinya namun tiba-tiba manjadi sangat lembut.
"adek gw gimana, gak usah bertele-tele, langsung aja ke poinnya" Artri mencoba untuk meluruskan kepentingan dia datang ke sekolah, padahal tersirat dia mencoba menghindari ajakan makan dari Nadi, guru mesum aneh.
"adik kamu sudah kembali ke kelas, kita bisa membicarakan adikmu di luar sambil makan, apa ada yang salah dengan ini?" Nadi menjawabnya santai sembari mengambil sapu tangan di kantung celananya, kemudian dengan lembut dia membasuh keringat yang ada leher Artri, menimbulkan perasaan aneh di tubuh Artri, kemudian dengan perlahan basuhan tersebut berpindah ke kening Arti, tangan Nadi menyapu sisi kiri sampai sisi kanan disitu Artri mulai berani untuk menatap wajah Nadi, wajah kalem namun tersimpan ambisi di matanya. sosok yang membuat wanita seperti Artri dengan mudahnya di bawa ke ruangan tidak jelas pada malam itu, sesaat ingatan itu kembali dengan sigap Arta menepis tangan Nadi, tapi nadi malah menahan kembali tangan Artri, kali ini genggamannya sangat lembut telapak tangan Nadi tidak lagi menggenggam pergelangan tangan Artri melainkan telapak tangannya, setelah sapu tangannya di letakan di pundak Artri, tangan Nadi merapikan rambut arta dirapikan poni Artri sampai menutupi keningnya, kemudian meletakan tepian rambut Artri ke bagian belakan telinga, selama Nadi melakukan hal tersebut Artri hanya bisa kembali terpaku pada wajah Nadi yang kalem
"lepasin tangan gw!" bentak Artri selagi Nadi mengusap bagian belakang rambutnya
"tangan kamu sudah bebas sedari saya selesai di bagian poni" memerah muka Artri setelah sadar dengan apa yang diucapkan Nadi, lalu dia sedikit menjauh. nadi menawarkan rokok kepada Artri
"makasih, bukannya di sekolah gak boleh ngerokok?" pertanyaan tersebut dibarengi dengan tangannya yang mengambil satu batang rokok, lalu dengan cepat Nadi menyalakan api untuknya. Artri menerima tawaran rokok karena dia berfikir kalo dia merokok pikirannya bisa jadi lebih rileks
"emang kamu anak sekolah? itu sih yang saya denger dari guru-guru perokok disini, peraturan itu cuma berlaku buat siswa" balas Nadi berisikan sarkas
"elu gak ngerokok?" tanya Artri kepada Nadi karena dia merasa canggung merokok sendirian di lingkungan sekolah
"enggak, saya sudah berenti, ini rokok tadi dapet razia, kalo kamu mau ini buat kamu terus sisanya saya ambilkan di laci meja masih banyak disana" mendengar jawaban tersebut Artri langsung mematikan rokoknya.
"ayo kita langusng ngomongin adek gw aja, dimana tempat makannya?" Artri ingin cepat-cepat selesai dari urusan ini dan segera pergi, karena sudah banyak perasaan dan pikiran tidak karuan merasuki dirinya.

sepanjang mereka melewati lorong, yang terdengar adalah teriakan murid mengejek mereka berdua
"uset, abis enak-enak nih pa"
"bagi-bagilah pak, bawa ke warung"
"gede njir, 34 34, 36 juga bisa itumah"
"parah sendirian di pojok parah pak Nad nih"
mendengar kegaduhan tersebut Artri hanya bisa pura-pura memasang wajah santai, akhirnya dia tahu maksud dari Nadian merapikan penampilannya. apa jadinya kalau tadi dia masih berantakan dan harus melewati koridor yang penuh dengan murid-murid bangor. setibanya di lokasi, dan menyelesaikan sarapannya Nadian membuka percakapan yang tidak disangka oleh Artri
"saya lebih tertarik membicarakan malam yang menggairahkan itu" ekspresi wajahnya kembali menjadi Nadian yang penuh hasrat
"engga gini perjanjiannya, lu bilang mau ngomongin adek gw, lagian gw juga udah anggep itu sebagai kegoblokan gw, selama gak terjadi hal-hal yang diinginkan" ketus Artri
"kalo 12 bulan kedepan terjadi sesuatu gimana?" bisik Nadi sambil mendekatkan bibirnya di telinga Arti
"tunggu jangan bilang lu......?" Artri mencoba melawan dugaannya serentak tangannnya mendorong tubuh Nadi

"ikut saya ke tempat waktu itu dan kita buat lagi semuanya jelas, serasa ada yang kurang" kembali tangan Nadi menggenggam lengan Artri lalu menyeretnya ke mobil, Artri ikut tanpa perlawanan, dipikirannya terganggu oleh dugaannya yang terlalu jauh, dia benar-benar tidah ingat apa yang terjadi malam itu

Selasa, 09 Januari 2018

Honorer Relationship

Sudah berakhir hari libur, Nadian mulai mengeluhkan kembali rutinitasnya menunda alarm sampai pada waktu teriakan ibunyalah yang membangunkannya. Sejak kecil Nadi memang tidak bisa bangun sendiri, kalau bukan ibunya yang membangunkannya. Pekerjaannya yang sekarang dirasa berat untuknya karena dia harus bangun sangat pagi agar tidak telat sampai tempat kerjanya. Sembari memanaskan vespanya Nadi menyantap sarapan nasi uduk dan teh manis panasnya, sarapan yang paling cocok untuk pria yang sulit bangun pagi, makanan cepat saji pagi hari.
”kamu harusnya dibiasakan loh mas bangun pagi, apalagi kerjaanmu yang sekarang” nasehat saban hari yang selalu terucap dari ibunya disetiap mereka sarapan bersama
“Nadi jadi pengen tau kalo nanti bukan bunda yang bangunin Nadi?” balas Nadi yang jauh dari kalimat jawaban
“maksud kamu?” heran ibunya mendengar anak semata wayangnya yang sekan melantur
“ya kalo nanti Nadi punya istri, dan dia yang bangunin gimana ya?” jawab Nadi sambil memasang muka lucu di depan ibunya
“halah cangkemu, palingan gak sampe seminggu istrimu minta cere, karena susah bangunin kamu” balas ibu Nadi sambil mencubit sikut Nadi
“ah bunda mah gitu sih, mana ada belum seminggu minta cere?” tukas Nadi sambil memasang muka masam”
“lagian kamu ini yang engga-engga aja, bunda aja belum pernah denger kamu deketin siapa, apalagi liat” balas ibu Nadi sambil memasukan bekal untuk anaknya.
“bunda mau yang macem apa, sebut aja bun sebut” Nadi menjawabnya dengan gaya sengak dan sok ganteng tersebut
“yang kaya apaya, bunda bingung sih, kalo dulu pas jaman bunda yang cocok buat calon mantu mah yang pinter masak, cantik, bibirnya tipis, rambutnya sepinggang, ada lesung pipinya, giginya gingsul, pinter nari, bisa main alat musik” jawabnya dengan nada yang lembut sambil tersenyum
“yaaaaahh, itu mah bunda, iya bun iya bunda doang emang yang paling emang” Sebal Nadi mendengar jawaban guyon bundanya
“yasudah berangkat sana, bekalmu sudah bunda masukan di dalam tas, kalo janda sebelah ngegodain jangan tergoda”
“yakalo godaannya maut, dikit mah bisa kali bun” jawab randi sambil senyum licik dibarengi dengan cubitan di pipi bundanya
“bisa bunda gesperin pala kamu” jawab bunda Nadi kesal
“oke bun aku berangkat ya”
Setelah earphone terpasang Nadi menark gas motornya kemudian berlalu. Berangkat pagi memang menguntungkan bagi warga Jakarta karena lalu lintas belum terlalu padat, jadi Nadi bisa menikmati perjalanan sambil menikati lagu-lagu Oasis dari handphone-nya.
“nah ini dia bocahnya sampe juga” teriak salah satu sapaan dari sudut ruangan kerja Nadi
“alesan apa lagi Pak Nadi, macet, ban kempes, vespanya masalah?” sambung salah satu perempuan yang ada di ruangan tersebut
“iya ngapa yak?” Nadi menjawab seadanya sambil tertawa
“ngapa tauk, elu hari ini kan pidato, harusnya cepet dikit datengnya, dikiiiiiiiiiit” balas Fadlan sambil melayangkan sentilan di teinga kanan Nadi
“lah ini kan hari pertama, harusnya bos besar yang lakuin” Nadi menjawabnya sok tau. Nadi memang menganggap enteng masalah ini, dia tau kalau kali ini adalah jadwal dia pidato, tapi dia mengira akan digantikan dengan orang lain yang lebih layak
“alesan aja ini si ganteng” celetuk salah satu perempuan tua di ruangan tersebut
Setelah beberapa rangkaian, tibalah saatnya Nadi untuk berpidato, ditengah pidatonya terdengar suara “alah bacotlu pa!” teriakan tersebut terdengar jelas sampai ke setiap gendang telinga semua peserta. Nadi menghentikan pidatonya sementara lalu tidak sampai satu menit melanjutkan kembali. Setelah kegiatan selesai semuanya kembali ketempatnya, tapi tidak dengan Nadi, dia berlalri dan mengejar seseorang yang mengganggu pidatonya, sambil memasang muka merah dia menggenggam tangan orang tersebut sekuat-kuatnya lalu menyeretnya ke ruangannya.
“bapak mau kamu panggil orang tuamu sekarang juga, bapak tunggu!” tanpa basa basi Nadi membentak anak tersebut
“mereka gak mungkin datang pak, apapun alesan bapak mereka gak mungkin datang” balas anak tersebut secara santai
“siapapun wali kamu bapak ingin menemuinya pagi ini!?” tanpa jeda Nadi melanjutkan perintahnya ke anak tersebut
30 menit berlalu kemudian ada seorang perempuan berpakaian sangat formal diantar sampai ke meja Pak Nadi, tidak salah lagi, dialah orang yang di tunggu-tunggu Nadi. Kaget Nadi melihat siapa yang ternyata menemui dia, seorang perempuan yang dia rasa kenal baru-baru ini. Perempuan tersbeut memperhatikan tangan adiknya yang memerah sementara Nadi masih terpaku pada tatapannya.
“oh jadi buat ini adik saya……” belum sempat perempuan tersebut menyelesaikan kalimatnya, rasa kaget membuat dia tak bisa melanjutkan omongannya. Rasa kaget Nadi meningkat menjadi bingung yang menggaung di kepalanya
“elu! Ngapain lu di sini, apa-apaan ini!?” perempuan tadi tidak melanjutkan kalimat sebelimnya melainkan melontarkan pertanyaan lain dengan nada sangat tinggi, suaranya terdengar ke seluruh ruangan, untung saja saat itu hanya tersisa dua orang guru yang tidak ada jadwal di jam pertama
“jadi pak Nadian gimana rasanya meniduri wanita cantik yang sedang mabuk!?” perempuan tersebut melontarkan pertanyaan lainnya seblum Nadi menjawab pertanyaan sebelumnya. Sontak dua orang guru yang ada di ruangan tersebut memusatkan mata dan telinga ke arah meja Pak Nadian

Tanpa basa basi Nadi menarik perempuan tersebut keluar ruangan menuju ke sudut koridor kelas

Minggu, 24 Desember 2017

Roda Dua Berbeda Rasa

Asalamuallaykum warahmatullahi wabarakatu, semoga kalian yang baca blog ini sehat selalu, baek-baek aja hidupnya baik yang dengan sengaja baca, atau gak sengaja nyasar gegara nyari gambar atau search sesuatu di google tapi ngarahnya ke blog gw. Fyi aja nih mungkin ini tulisan terakhir blog gw di tahun ini, tadinya gw mau nulis kaledioskop gitu, tapi mainstream gitu dan hidup gw juga jauh di bawah mainstream, standard sesetandardstandarnya, bisa dibilang, kayaklu standarin motor miring di tempat miring nah ada anak kecil maen tokadal dua batu di atas motor gw, udahan mereka pasti. Bicara tentang motor, disini gw mau bahas rasanya naek di atas motor dengan berbeda-beda jenis motor
                Dilahirkan sebagai anak gang, menuntut gw untuk mahir dalam mengendarai motor, karena manfaatnya banyak kalo lu mahir naik motor di dalem gang, semisal ada tetanggalu beli motor baru terus mereka sombong, biarin aja ya namanya tetangga mah emang gitu, gak usah dipikirin, nanti juga  pindah dia, apalagi masih ngontrak gitu.

1.       Motor Bebek
Dimulai dari motor yang paling besik, kenapa gw bilang besik, karena kalo gw bilang basic gw ribet nulisnya harus dimiringin. Perasaan naek motor ini ya sekedar, gak ada rasa yang istimewa dari motor ini, lu dibilang keren engga, dibilang pinter engga, dibilang yatim juga engga, dibilang tukang galon bisa jadi. “tuh ada orang naek motor” |”mana-mana?” | “itu” “mata motoran!!!” yaudah paling gitu doangan, sesekedar itu



2.       Motor Metik
Naek motor ini lebih memiliki nilai kemanusiaan yang lebih, karena gw gak usah capek-capek mindahin gigi, gak usah capek-capek nganter galon, semua tinggal tarik gas, dan motornya berfungsi sebagaimana mestinya, untuk manufer sendiri gw akuin gw lebih jago nyalip-nyalip di kemacetan kalo naek motor metik, terus kalo ngebut rasanya gw lebih safety pas naek metik. Motor ini kebanyakan dicintai oleh kaum wanita dan dinistakan oleh para ibu-ibu.


3.       Motor Gede/Lakik
Mengendarai motor gede itu sedikit menumbuhkan rasa percaya diri gw sebagai laki-laki, karena motor ini identik dengan motornya para laki2, yang gw rasain naek motor ini disamping gw ngerasa jadi lebih keren sebagaimana mestinya, motor ini juga nyaman bet buat dibawa pelan atau kenceng. Oh iya motor ini juga bisa masuk di kategori motor mesum, karena posisi duduk penumpang jauh lebih tinggi dari posisi duduk pengendara, apalagi kalolu lewat jalan kampung yang udah puluhan tahun, polisi tidurnya banyak bet, setiap dua rumah ada polisi tidur, ya lu tau dah yakan kalo bawa cewe gimans, kasih KIT joknya biar licin, terus anuan dah, easy as fak.


4.       Motor RX King
Njay gujay wadadaw kalo bawa motor ini mah, satu-satunya motor impian gw, perasaan naek motor ini jan ditanya lagi dah, gw ngerasa jadi bajingan kalo naek motor ini, knalpot berisik kenceng jangan ditanya, orang gw pernah naek motor ini, samping gw ada ibu2 naek motor, lah itu ibu2 langsung melukin tasnya, apa coba kalo gak suudzon dia ama gw?? padahal muka gw udah gw lucu2in, tapi lu jangan coba2 naek motor ginian tengah malem masuk gang, abis diinjek leherlu ntar.


5.       Motor Ninja 250
Gw berasa jadi orang ganteng seada-adanya, berasa punya duit banyak seaer-aer gw kalo naek motor ninja, kalo gw punya motor ginian gak kuliah kali gw, lah orang ganteng sama punya duit ngapain kuliah njir. Apalu motor gw ninja 250. Kalolu boncengin cewek nih ya, engga duduk tuh cewek, rebahan yang ada di punggunglu, itu motor gak lulus sertifikasi halal, anjir motor maksiat itu.



6.       Vespa
Udeh lah udeh, kalo ada yang bilang naek vespa ganteng, cowok bawa vespa keren, cowok naek vespa itu kharismanya dapet, persetan njir!!! stereotip itu, gw udah hampir 8 tahun naek vespa, senengnya Cuma tahun2 pertama karena gw kemakan stereotip yang beredar, sisanya ya capek, pegel, ngerawatnya harus sabar, apalagi kalo lu abis dari jalan jauh, macet, itu yang gw cari orang Madura, biar gw rongsokin motornya, terus gw naek angkotdah pulangnyaa, kalo emak gw nanya “mas motornya mana?” | “ma, mas iyang gak mau durhaka hanya karena pertanyaan spele”. Laen hal kalolu yang dibonceng, jok vespa itu empuk bet, demi Allah dah, motor 50jt juga kalah nyamannya sama jok belakang vespa. jangan dah gw saranin, kecuali lu orang yang sabar dan penuh kasih sayang, lu beli dah vespa gw.

7.       Motor Balap Liar
Perasaan naek motor ini tuh kayak lu boncengin malaikat maut, tapi dia duduk didepan, kayak kalolu boncengin anak kecil mintanya duduk di depan, yang kerjaannya nanya mulu kalo liat sesuatu di jalan. Lah ini malaikat yang duduk didepan, kalo dia nanya lu bisa jawab apaan?


8.       Motor Anak Turing
Rasanya naek motor ini beda bet dari motor-motor yang pernah gw naekin di atas, naek motor ini rasanya gw gak cukup kalo cuma jalan sejauh 3km ato 10km maunya tuh jalan Jakarta-rawa gembong, itupun minimal, oh iya sama kalo naek motor ini gw bawaannya pengen bet jalan lewat jaglukan kenceng2, soalnya gak terasa kalo ada jaglukan gitu.


9.       Motor Trail
Gw sekali naek motor ginian, dan Alhamdulillah pas banget gw dipinjemin motor sama Bagus bertepatan gw lagi di puncak, dan gw ketemu dia, katanya dia abis gathering gitu, dang w juga lagi ada silakbar, gw pinjem dah tuh motor dia buat naek-naek bukit, anjay gak terasa sama sekali kalo ada kerikil, gw rasanya itu jalanan biasa, kayak dorong troli belanjaan di Mall yang mahal, yang lantainya bukan keramik.


10.   Naek vespa boncengin kamu
Ya Allah damai bet rasanya gak ada beban, biarpun yang gw boncengin gak pegangan gw ngerasa dipegang sama malaikat, jadi aja badan gw ringan dan tenang, janganpun Tangerang, Alas Roban bolak balik juga kuat gw.


semua gambar berasal dari google.com

Senin, 13 November 2017

Karena 90an Rusak Kids Zaman Now Sebelanga

Assalamuallaykum wr. wb aduh gimana ya, gw minta maaf ini baru apdet, sibuk gw mikirin konten buat kepengangguran gw, oh iya sebagaimana yang kalian tau sebelumnya, gw apdet kalo galau, untuk kali ini engga dan semoga seterusnya engga (se-mo-ga) semoga, gw akan apdet kalo lagi apdet, jadi kapan aja bisa apdet J tapi gw bingung, udah setahun lebih blog gw gak gw buka yang baca udah puluhan ribu yang baca, orang goblog mane coba yang nyasar kemari? FYI nih ya, buat tulisan cerpen, puisi, cerita bersambung dari agasinkron, bisa kalian buka www.kandanghuruf.tk (kalo gak bisa dibuka berarti lagi perbaikan) maklum blog buat isi rekening biar jadi orang kaya. untuk blog yang ini cuma tulisan sekedar aja.

“yaelah kids jaman now” “emang dah kelakuan bocah-bocah alay” “gak jauh udah bocah pala koreng kelakuannya”
                 
Setiap zaman selalu ada aja istilah buat mereka yang umumnya lebih muda dari kita dan perilakunya gak sesuai yang diharapkan (tindakan negatif) dalam hal ini gw jadi inget mata kuliah “Teori Belajar Pembelajaran” kalo kalian kuliah di kampus pendidikan pasti dapet mata kuliah ini, dalam kuliah tersebut ada beberapa yang gw jadiin pedoman gw jika gw jadi tenaga pendidik profesional atau jadi orang tua nanti “murid tidak pernah salah” kalimat tersebut tertulis di modul TBP, gw lupa siapa penulisnya *maaf* mungkin kalo buat beberapa orang, kalimat itu gak bisa begitu aja disepakati. Entah kenapa pas gw baca modul itu, gw sangat sepakat dengan kalimat itu. Okey kenapa gw bawa-bawa kids zaman now sama mata kuliah pendidikan?

Kita yang dewasa, anggap saja kita kelahiran tahun 90an, yang sering kita bangga-banggain tuh tahun kita, padahal tahun itu Indonesia lagi pontang-panting. Kita yang bangga-banggain orgasme berkepanjangan dihadapan kids zaman now banding2in lagu kita lebih bagus lah, acara televisi kita lebih bagus lah, pergaulan kita lebih baik lah, main kelereng, becek-becekan, maen bola antar kampung, maen berbi-berbian, dll yang bisa dilakukan bersama, alah persetan. Hanya karena hal itu semua kita menghakimi anak-anak muda di bawah kita kalau mereka generasi yang buruk. Kita yang selalu bangga dengan zaman kita hingga lupa bagaimana caranya mendidik anak-anak di bawah kita, yang bisa kita lakukan cuma menghakimi, caci-maki, banding-bandingin. Padahal kalian dulu pasti benci kan kalo pas di sekolah atau dirumah dibanding-bandingin.

“murid tidak pernah salah” kalo kalian ngerasa superior, punya power, punya suara yang bisa didenger sama yang lebih muda, harusnya kalian nasehatin, arahin yang bener, “ini loh dek begini” “jangan gitu dek, efeknya nanti gini-gini” jangan kita malah “dasar kids zaman now, bocah alay!” ya emang mereka anak bocah, mau diapain lagi, elu kata-katain sampe lidahlu berdarah bernanah percuma, karena hal tersebut gak mendidik sama sekali

Contoh kecilnya, sekarang lagi musim game Mobile Legend atau DoTA, kalolu tau di timlu ada anak bocah SD, ato SMP, SMA sederajat jangan dikatain, kasih motivasi “don’t give up, game is hard, hang on we will win this game, well played, relax you are doing fine” atau bisa juga suruh uninstal gamenya, suruh belajar sama sekolah yang bener, aduin ke orang tuanya kalo anaknya cuma buang-buang kuota sama  listrik. Nah kalo sepantaran lu kata-katain gapapadah

Nah kalo di lingkungan rumahlu ada anak-anak belia pada nongkrong gak jelas, ngelakuin tindakan yang gak sewajarnya (padahal nongkrong juga gak baik sih buat bocah-bocah SD SMP) kalian buabarin aja tongkrongannya, jangan bisanya cuma nyinyir di medsos, emang mereka kenal samalu di medsos, diskusiin ke RT atau karang taruna. Sesimpel itu kok.
                               sumber : jamber bagus


Sabtu, 18 Februari 2017

Tanpa Piala #4 -Bertemu Sasha

"kamu apa kabar Sasha??" belum lewat lima detik Radi membantingkan badannya di kursi, pertanyaan basa basi itu keluar begitu lancar
"gak usah sok asik Di, aku tau kamu gak baca surat dari aku, kamu pergi gitu aja!" ketus Sasha membalas basa basi Radi. seketika suasana menjadi tegang sekaligus hening, cukup lama untuk Radi merespon Sasha
"aku minta maaf, gak ada yang bisa aku jelasin disini, semuanya pasti salah nantinya, kita baru bertemu tidak bisakah kita beritngkah sewajarnya?" Radi mencoba untuk mencairkan suasana, tapi mau dikata apa lawan bicaranya adalah perempuan yang ditinggal tanpa kabar dengan waktu yang cukup lama
"udah gitu aja? kamu gak mau jelasin apa-apa!? kamu gak ngerti apa kalo orang butuh penjelasan!?" makin geram Sasha melihat kelakuan Radi
"aku mau pesen makan dulu, kamu mau aku pesenin roti kismis pake madu?" roti kismis madu itu makanan kesenengan Sasha
"gak usah! aku udah gak suka sama roti kismis madu!?" kekesalan Sasha makin bertambah melihat tingkah Radi yang seakan tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka
"kamu kurus, pipi kamu jelek, gak usah banyak gaya, aku gak suka ngeliat pipi kamu tirus, kamu bukan supermodel" datar Radi membalah jawaban Sasha yang ketus
"TERSERAH!" balas Sasha sambil memalingkan mukanya kearah jendela
langit sore mulai melukiskan cahaya senja yang menerawang dibalik awan, semburatnya memancar berpantulan di kaca gedung pencakar langit. makanan sudah tersedia di meja, tapi Sasha masih teguh pada pendiriannya untuk tidak makan, dia hanya minum air mineral yang dibawa dari rumahnya
"di luar masih masih banyak orang yang kelaparan, mereka rela makan makanan dari tempat sampah, kamu jangan kufur gitu, gak seharusnya guru beritngkah kayak gini" tanggapan Radi yang seperti itu membuat Sasha merubah pikirannya, dimakanlah roti kismis madu tersebut
"biasa aja, gak enak. nanti kalo udah abis aku mau pulang" masih saja Sasha memberi respon ketus terhadap Radi, hatinya dan pikirannya masih menunggu penjelasan dari Radi, bertahun-tahun dia menunggu saat seperti ini, tapi Radi tak kunjung memberi penjelasan
"nanti aku yang buatin kayak biasa, biar kamu bilang enak. Sha aku minta maaf sekali lagi, sekarang aku minta maaf, nanti kamu pulang aku juga minta maaf, besok kamu bangun aku minta maaf, besoknya lagi aku minta maaf, besoknya juga aku minta maaf, seterusnya aku akan minta maaf, aku bilang sekarang aja biar aku gak keseringan minta maaf" Radi mulai serius dengan percakapannya
"kamu emang bisanya cuma minta maaf, itu doang kemampuan kamu" Sasha masih saja dingin menanggapi Radi
"aku pergi karena ingin tau, mampu gak aku tanpa ada kamu" Radi menjawab datar sambil matanya menatap mata Sasha dalam-dalam
"oh jadi emang sengaja" makin geram Sasha mendengar pernyataan Radi
"sudah Sasha gak usah seperti anak kecil gitu tanggapan kamu, kamu bahkan gak tanya apakah aku sanggup" Radi memotong pembicaraan Sasha sambil mulai menggenggam tangan Sasha lembut. Sasha mulai terdiam memikirkan apa yang barusan dikatakan Radi, sanggupkah ia menjalaninya, Sasha tak pernah memikirkan hal tersebut, dia pikir hanya dia yang memikirkan hal seperti itu, memang benar tidak ada yang sanggup hidup jauh dari kesayannya.
"Radi sudah mau maghrib, aku mau pulang" parau Sasha meminta, dia tau dia akan menangis Radi tidak suka melihat perempuang menangis Sasha gak mau melihat Radi kebingungan

Di dalam mobil Sasha hanya terdiam, membiarkan badannya terbenam semakin dalam di kursi penumpang, sementar Radi terlihat gelisah, entah karena macetnya jalanan atau bingung harus apa agar Sasha tidak bersikap seperti itu.
"aku mau cerita gimana aku di Ceko, gimana aku hidup tanpa kamu" Radi berbicara sekenanya, ditanggapi syukur engga ya gapapa, abis mau gimana cewe kalo udah begitu mau diapain
"yaudah cerita aja" Sasha mulai antusias merespon Radi
"besok aja tapi, biar waktunya banyak" modus Radi agar Sasha mau diajaknya bertemu kembali
"yaudah kalo gak niat cerita gak usah" kesal Sasha mendengar tanggapan Radi yang seakan mempermainkannya
"ya emang banyak Sasha yang harus diceritain" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar besok mereka bisa bersama lagi
"besok aku sibuk, udah akhir tahun ajaran" ada saja alasan yang keluar dari mulut ibu guru ini
"sibuk bukan berarti gak pulang kan dari tempat kerja? oh iya pasti alesan selanjutnya capek" Radi menerka apa alasan yang nantinya akan dilontarkan Sasha
"nah itu kamu tau kan, yaudah emang beloum ada waktunya yang pas kali, kamu kerja aja, emang kamu gak ada kerjaan apa disini?" bego emang Radi, udahlah abis lah lu lagian, maut dijemput, gak ada alesan laen kanlu buat bujuk Sasha
"yaudah Sasha kita udah sampe, salam buat mama papa kamu, jangan lupa makan" datar Radi mengatakannya, bahkan matanya hanya melihat pedal gas mobilnya
"makasih" Sasha membalasnya dengan satu kata datar, kemudian iya berjalan cepat menuju pagar rumahnya.
"Sasha! kamu orang pertama yang aku pengen temuin di Jakarta, tapi kamu gak bisa, kamu tau kan aku malu untuk bilang rindu, harusnya aku bilang tadi saat kita makan, aku rindu kamu Sasha, Sasha kamu cantik pake baju ini, Sasha aku suka parfume kamu, kapan kamu ganti parfume, dulu gak semanis ini baunya? Sasha rambut kamu lucu kalo di kuncir kuda kayak tadi, pas sama muka kamu yang lagi jutek, aku suka kamu tanpa kacamata, mata kamu udah gak minus emangnya? hells kamu kekecilan, ringkih aku liatnya, besok pake sneaker aja, ato pake teplek, sama aja cantikna kok. Sha tapi apapun kamu, aku rindu, Sha kamu tau kan aku sayang sama kamu?? diucapkan hal itu semua tanpa ada jeda, Radi memeluk Sasha dari belakang, tangannya melingkar di leher Sasha semua kalimat tersebut tepat diucapkan di telinga Sasha. mendapat perlakuan tersebut Sasha hanya bisa diam, tidak pernah Radi mengatakan rindu, baru kali ini dia mengatakannya. merasakan tidak ada respon apa-apa dari Sasha, Radi segera menyudahi perlakuannya, kemudian membukakan pagar rumah Sasha, untuk selanjutnya pergi
"Maaf Sasha, aku pulang :)"
"ati-ati" terdengar datar Sasha merespon Radi, kepalanya menghadap kakinya sendiri, jarinya merapikan rambutnya ke arah belakang telinga, dengan sekejap dia membalikan badannya lalu menutup pagar rumahnya.

Sabtu, 03 September 2016

Tanpa Piala #3 -Membujuk Sasha-

dengan cepat Sasha membanting tubuhnya ke kasur, menghela nafas panjang, lalu menahan napas beberapa saat, kemudian dia ambil foto selfie, hasilnya gitu deh. selepas dia upload ke jejaring sosial, tidak lama handphonnya bergetar, pesan masuk dari Radi. "halo Sha, aku anu sa" dengan heran Sasha membaca dan memahami pesan dari Radi, dia tidak juga memahaminya, akhirnya dia membalasnya sesuai apa yang dia rasakan "kamu kenapa Radi?" | "anuan Sha aku ada di Jakarta, tapi aku bingung, aku ada di bandara, terus aku gak bisa pulang, aku gak tau naik apa, terus gak ada yang keluarga yang bisa jemput, kamu mau tolongin aku ga?" Sasha masih bingung, dalam pikiran Sasha hanya ada satu pertanyaan, "ini cowo macem apaan dah, masa takut pulang sendirian, apa jangan2 dia mau modus" pertanyaan itu terus dipertanyakan sampai akhirnya Sasha ketiduran. Radi pusing dan bingung, dia terus scroll kontaknya sampai akhirnya dia berhenti di salah satu nama, Haqi. tanpa memikirkan apakah nomernya masih aktif atau tidak Radi langsung menghubungi Haqi, singkat cerita Radi dijemput oleh Haqi, Haqi adalah temen Radi, temen sepergalauan setiap Radi galau dia selalu cerita ke Haqi, sebaliknya Haqi juga seperti itu. "untung aja adalu Haqi, kalo engga gw bingung mau gimana, masa iya gw tidur di bandara" | "ya elu lagian yang engga2 aja, cowo bingung pulang? lu mau gimana nih, langsung pulang apa nongkrong2 dulu?" | "boleh tuh kayaknya kalo nongkrong dulu, bayarin yak, hehehehe" | "Ya Allah, lu kerja doang di Ceko, nongkrong masih aja minta bayarin"


Haqi memutuskan untuk nongkrong di kedai teh, dengan nuansa lampu warna putih setibanya disana Radi langsung bertanya kepada Haqi "loh kok kita kemari, ngapain ngeteh? kan udah malem, ntar diabetes" |
 "oh iyaya lupa gw, yaudah kita pindah aja, akhirnya mereka pindah ke kedai greentea low sugar. mereka memesan kopi dengan roti bakar.
 "eh gimana, lu udah hapal berapa juzz?" Haqi memulai percakapan basa-basi,
 "ya masih gini2 aja baru nambah 2 juzz, lu gimana?" |
 "gak beda jauh samalu, gw baru nambah 2 juzz tambah se ain 2 ain" *ini request dari ibu gw, kalo mau nulis cerita harus ditambahin bumbu islami
"eh iya Qi, gimana kabar keluarga lu"? |
"alhamdulillah ayah sama ibu gw sehat" |
 "bukan itu maksud gw, gw kira lu udah berkeluarga" |
 "doain aja, bulan depan gw lamaran" |
 "uwooooowwww, iya gw doain kok Qi" |
 "lu sendiri gimana? masih Sasha?" |
 "hahahaha, hahahah, hahahah. keparatlu nanyanya T.T" |
 "udah gak usah sedih gitu, mecin emang bikin pusing. hahahaha" |
 "taudah, udah 5 tahun padahal, masih aja kepikiran gw, dia apa kabar ya? tadi sih gw sms, mau minta tolong dijemput gw, eh dia gak bales, udah males kali dia sama gw ya? |
 "ketiduran kali dia" |
 "mana ada, kan gw minta tolong, bukan minta yang macem2" |
 "makanya jangan pergi untuk melupakan, karena setiap yang pergi pasti butuh peta kepulangan" | "gak gitu Qi, gw pergi biar jadi lebih baik, biar gw bisa buktiin apa yang ditulis Sasha di suratnya, ya walaupun gw tau dia juga gak akan terima gw, udah kebaca dari pembukaan suratnya, cewek kan kalo nolak alus bertele2, lagu lama kaset kusut itumah" |
 "lagian lu dulu kenapa sih gak buru2 jadian aja sama Sasha? gw rasa dia bete, kelamaan jalanin yang gak jelas kayak gitu" | Haqi bertanya mulai serius, dengan merendahkan nada suaranya, karena ini pertanyaan yang dari dulu ingin dia tanyakan.
Radi membenarkan posisi duduknya lalu menghela nafas panjang, tidak berbicara untuk beberapa detik, Radi baru berbicara setelah meminum sedikit kopinya
"gini Haqi, mendingan mana jalanin hubungan yang gak jelas tapi jelas jalaninnya apa jalanin hubungan yang jelas tapi gak jelas jalaninnya? emang gw kayak gitu gak jelas nama hubungannya, tapi kita gak pernah namanya konflik2 gak jelas, berantem2an lah masalah sepele, sekalinya ada konflik, palingan masalah pola pikir dan sudut pandang,semisal jalan ato ketemuan ya yang ada seneng2 aja, jelas kan gw jalaninnya, lah sekarang lu liat yang pacaran, emang jelas nama hubungan mereka, tapi konflik mereka aneh menurut gw, cemburu2anlah, mau maen aja kadang dilarang, itu yang gw bilang hubungan jelas tapi gak jelas jalaninnya" |
"tapi lu egois kalo gitu namanya, lu gak mikirin perasaan Sasha, ya kalo dia mau terima cara kayak gitu, lu bilang konfliklu masalah persepsi sama sudut pandang, lu pernah gak bahas masalah ginian" | Haqi menimpali apa yang Radi bilang sambil memutar bagian atas cangkir kopinya
"iya juga sih ya, tapi dia juga gak pernah kasih kode atau apalah gitu biar pembicaraan kearah situ" | Radi menjawab sekenanya
"emang aja lu dongo Radiiiiiiiiiii" gemas Haqi menanggapi jawaban Radi. mendengar tanggapan Haqi yang seperti itu Radi terdiam dan membiarkan pikirannya pergi jauh meninggalkan hatinya yang mulai tidak baik. Radi mengulas kembali masa lalunya dimana dia tidak pernah mempertanyakan masalah hati Sasha, apa yang Sasha rasakan, dia hanya menikmati kenyamanan untuk dirinya sendiri, bahagia untuk dirinya sendiri. Melihat lamunan Radi, Haqi menepuk pundak sahabatnya itu sembari mengajak Radi untuk pulang, karena waktu sudah semakin larut.


"Radi maaf, semalem aku ketiduran, aku capek banget kemarin. Kamu masih di bandara?" hal pertama yang dilakukan Sasha saat bangun dari ketidurannya, dia merasa tidak enak terhadap Radi.
"eh iya Sha, gak masalah. Aku udah sampe rumah kok, semalem dijemput sama Haqi. Kamu emang dari mana kok bisa kecapean?" dengan cepat Radi membalas pesan dari Sasha
"hah Haqi?? dia kan lagi di Aceh. pura-pura kerja aja aku mah biar papa gak pusing mikirin anaknya, hahahah" Sasha membalasnya santai, sebagaimana Sasha-Sasha di dunia, apalagi Sasha yang anu.
"lah yang bener?? itu semalem Haqi kok yang jemput, terus kalo bukan Haqi, siapa dong?" Radi membalasnya dengan sedikit ketakutan
"hahahahaha, engga Radi, becanda kok becanda. Udah ya Radi aku mau siap-siap buat kerja"
"iya Sha, semangat ya. eh iya nanti sepulang kamu kerja kita bisa ketemu kan?" dibalasnya pesan Sasha dengan jantung yang anuan, *deg-degan maksudnya
"hah, ketemuan dimana?" Sasha lebih anuan membaca pesan ajakan dari Radi, banyak pertanyaan yang ada di kepalanya, mau apa Radi minta ketemu, 5 tahun pergi gak ada kabar, tiba-tiba ngajak ketemuan.
"diiiiiii, gak tau. kan aku udah lama gak di Jakarta, kamu yang harusnya lebih tau, tempat yang makanannya enak sama gak rame orang intinya" Radi membalasnya dengan semangat, makin yakin kalo Sasha mau menerima tawarannya
"kalo kamu udah paham isi surat dari aku, baru kita bisa ketemu!!!" Sasha membalasnya ketus
"iya santai aja, nanti kabarin aja kalo udah selesai kerja" Radi membalasnya dengan santai, di satu sisi dia bingung, kan waktu itu suratnya dia robek-robek sebelum selesai baca. gw juga penulisnya gak tau apaan isi suratnya, lah terus nanti Radi ngomong apaan pas ketemu???
"gak usah sok penting, kalo paham kenapa kamu pergi selama ini?? biar dibilang apa??" Sasha makin kesal membaca balasan Radi yang seakan tidak pernah terjadi diantara mereka
"aku minta maaf, sebaiknya hal ini kita bicarakan nanti saat kita bertemu. setiap orang pasti punya alasan dari setiap tindakannya, biar nanti aku jelaskan agar kamu mengerti Sha" Radi mencoba meyakinkan Sasha agar mau menemuinya nanti.
"yaudah jelasin disini aja juga bisa kan, kita udah sama2 dewasa, masa aku gak ngerti maksud kamu walaupun itu dari pesan" masih saja Sasha berargumen makin gak jelas
"ya Allah Sasha, kenapa jadi gak jelas gini deh pagi-pagi, gini deh kita udah lima tahun gak ketemu, emang aku salah kalo mau ketemu kamu, lagian nanti juga pasti banyak hal lain yang kita bicarain, kamu juga pasti punya cerita kan" ngotot Radi agar dia bisa menemui Sasha nanti
"yaudah kalo gitu, tapi aku gak mau kalo nanti kita ngomongin yang bikin aku bad mood" Sasha menerima ajakan Radi dengan harapan tidak ada perbincangan yang dia inginkan.
"haaaahhh, finally, yaudah nanti aku jemput kamu aja sepulang ngajar, share location aja ntar" bujukan Radi menuai hasil positif,


Sekarang tinggal dia mempersiapkan apa yang harus dibicarakan. Radi mencoba mencari kembali surat yang dulu diberikan Sasha, setiap sudut rumahnya dia telusuri, tetes keringat Radi sudah berceceran disetiap ruang rumahnya. Radi mencoba mengingat kembali, dimanakah dia membuang surat itu, sampai lirikan matanya mengarah ke motor bebek tua miliknya, diambillah kunci box motor itu, "gotcha, alhamdulillah, ini dia suratnya" dengan teliti Radi menyatukan setiap sobekan-sobekan surat tersebut, membacanya dengan hati-hati, sampai pada kalimat yang waktu itu tidak dia baca, rona wajahnya berubah menjadi merah, entah apa yang ada di pikirannya, entah marah atau tersipu dengan kalimatnya, seketika dia mengucapkan kalimat "gak gitu Sasha engga gituuuuuu....... ah kamu~"

Rabu, 10 Februari 2016

Peta Kekuatan Jomblo pada Konteks Valentine
Assalamualaykum

Deadpool udah keluar, tapi gw gak peduli. LGBT makin rame, sama gw juga gak peduli, gw anggepnya pengalihan isu, tapi gw gak tau isu apaan yang dialihin, anjas sok banget netijen lu.
Disini gw mau bahas jomblo dan valentine, kenapa gw mau bahas tentang ini, karena gw jomblo dan gw ada di tengah pembodohan hakiki yang menahun, yap kelakuan ikut2an bocah pada baru mimpi basah, ikut2 ngerayain valentine. Untuk kalian para jomblo sepatutnya kalian harus berbangga karena kalian merupakan bagian penting dalam pengedukasi pembodohan ini. Segala Puji Bagi Allah, jomblo masih kuat dalam peta budaya ikut2an valentine, karena apa? Didukung budaya negara Indonesia yang memiliki adat istiadat ketimuran, secara hierarki kita para jomblo sudah terpatri tekad yang kuat untuk bersilat lidah, membuat pengecualian diatas pengecualian tentang pasangan.

Ditinjau dari peta kekuatannya, memang tidak bisa kita pungkiri ada saja kelemahan pada beberapa sisi, menurut pengamatan gw, sebagai orang ketiga serba soktau, sisi terlemah dari barisan jomblo teranuuuu, berada pada barisan depan, barisan yang banyak diiisi oleh bocah2 baru mimpi basah, yang mudah sekali melintasi perbatasan secara terang2an dan membaiat diri mereka sendiri sebagai pendukung barisan pembeli cokelat untuk merayakan valentine. Barisan ini sangat unik karena, hilang satu muncul satu, oleh karena hal itu barisan ini sulit didata untuk pelatihan dan pengedukasian, bukan barisan lain terlalu naif dan apatis pada masalah ini, tapi ya gitu deh, yaelah lu tau sendiri kelakuan bocah pada baru mimpi basah gimana. Selanjutnya barisan tengah, barisan ini tidak terlalu lemah dan tidak terlalu kuat, namun barisan ini memiliki psikologis terbaik, karena mereka tidak terlalu reaktif, mereka lebih sering bertindak sendiri, pada suatu waktu mereka bisa saja menghasut para pihak oposisi, menghasut untuk masuk barisan jomblo, atau bahkan yang lebih parah meletakan musuh pada kehampaan dimensi budaya asmara, karena pemikiran2 dan hasutan yang disampaikan. Barisan tengah ini bisa dikatan penyambung mahzab barisan depan dan barisan belakang. Barisan ini diisi oleh mereka yang jomblo karena banyak hal yang lebih penting selain berpacaran. Oke sekarang kita masuk ke barisan belakang, barisan belakang bisa dibilang barisan terkuat pada peta ini. Mereka dikatakan kuat karena barisan ini lebih mengandalkan literatur yang mereka dapat dari pembelajaran mereka, mereka belajar dimana gw juga gak tau, mereka sangat kolot, ngotot, dan teguh pada pendirian dan literaturnya. Mereka tidak kenal strategi win win solution, mereka benar2 barisan bergenderang berpalu, berkepala batu, mereka akan terus memukul mundur musuh sekalipun mereka dibilang bodoh, kolot atau kolot, bodoh. Barisan ini mayoritas diisi oleh mereka yang jomblo dari lahir karena sudah bersumpah, seperti "jomblo sampe halal"



Senin, 15 September 2014

karena MaBa bukan lagi Mandi Basah

Untuk postingan kali ini gw mau ngasih tau bagaimana cara kita menghadapi perkuliahan yang belum tentu baik dan benar alaaaahhhh somay lu yan, lulus aja belom. Oke dimulai dari kenapa gw berani nulis tentang beginian, emang sih gw belom lulus dari kuliah tapi seenggaknya ya gw udah mencapai semester 7 dengan reward ciuman dan senyuman dari orang tua gw, yang gw anggap itu sebagai rasa puas dari orang tua gw. sama satu lagi ada yang ask ke askefem gw, kalo dia nanyain "kok gak apdet blog lagi" kira2 gitu pertanyaannya. makasih anon buat pertanyaannya, langsung gw jawab aja nih di blog. Oke langsung mulai aja

1          1.  Untuk point pertama ini ya lebih mengarah pada maba2 lucu. Pertama lu masuk kuliah, jangan pernah lu anggep sesuatu hal yang baru, ntar jadinya lu kaku, terus malu buat nanya, terus jadi sok tau dan terus lu gampang banget diculik nantinya. “malu bertanya jangan nanya, sesat di jalan malu-maluin” begitulah kiranya kata pepatah kontemporer Ahmad Faisal Kamal


2          2.    Untuk point yang kedua ini adalah pesan dari abang-abangan gua di tongkrongan semasa gw masih SMA, kata mereka “semester 1 sampe dengan semester 4 itu lu harus dapet ip minimal 3.00” ini bener banget ternyata. Gw mengikuti apa yang dibilang abang-abangan gw waktu itu, dan buktinya sangat gw rasakan baru-baru ini (semester 7) kuliah gw jadi semakin santai karena mata kuliah yang gw ambil jadi semakin dikit, karena apa? Karena gw emang mau ambil dikit ajah.

3         3.  Di poin ini gw mau menjelaskan tentang ilmu, ahahahaha. Banyak banget ilmu yang bisa kalian dapat ketika masuk perkuliahan, banyak paham yang akan kalian pelajari nanti. Eiiittss tapi hati-hati, jangan sampai kalian memahami paham yang salah, maksudnya disini adalah jangan sampai kalian mengikuti ajaran yang melanggar Pancasila dan UUD 1945.

4         4.  Selanjutnya adalah, teman. Yeeeeeyyyy, di perkuliahan itu menurut gw sih gampang banget cara mencari teman yang tepat ataupun tidak tepat tapi ditepat-tepatin, kenapa gw bilang gitu, karena saat kalian kuliah itu kalian memakai pakaian yang tidak seperti anak SMA sederajat, jadi kalian bisa melihat sendiri, but don’t judge the book from the cover carilah teman sebanyak-banyaknya. janganlah pilih2 temen, karena Allah menciptakan manusia juga gak pilih2 keleuzzzz, yang penting akhlak sama aqidahlu baik, so karena itu dasar dari pergaulan yang baik dan benar menurut gw.

5         5.   Masuk poin kelima nih, jeng jeng jeng *drumroll* yap pacar. Ish apaan sih pacar? skip aja kali yak

6         6.   Ini juga point penting, organisasi, organisasi di kampus itu banyak bener adanya, ada opmawa dan ormawa, opmawa itu organisasi pemerintahan mahasiswa, ya kayak BEM, HIMA, HMJ, BPM, MTM kemudian ada ormawa itu organisasi mahasiswa, kayak semacem ekskull lah kalo disekolahan.


7         7. Ya Allah semoga yang menulis postingan blog ini mendapatkan ridhamu agar lulus di waktu yang tepat, mendapatkan berkahmu, diterangkan hati dan pikirannya saat menghadapi skripsi, diringankan langkah kakinya untuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing, digemulaikan jemarinya saat mengetik skripsi, difasihkan lisannya saat mempresentasikan skripsinya. Aamiin